Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?

Posted: June 9, 2012 in Gagasanku

Benarkah Posisi Menentukan Prestasi?
OPINI | 07 June 2012 | 20:53Dibaca: 100 Komentar: 0 Nihil
Menyedihkan sekaligus mencemaskan!!!!!!. Itulah gambaran sederhana sesaat setelah membaca tulisan diatas. Kata itu saya dapati disebuah akun facebook beberapa saat yang lalu. Sang empunya akun ternyata seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kabupaten sebelah. Saya tidak tahu siapa sebenarnya dia, tapi bisa jadi ia salah satu muridku di SMA dulu.Bagi saya siapa sebenaranya dia tidaklah patut diperdebatkan lama-lama,karena paling tidak satu pelajaran penting telah ia berikan pada saya pagi ini. Terima kasih ya?sudah mau memberi pelajaran berarti,,,,,,,,,gratis lagi,he he he.

Konon,ia rela bangun pagi dan berangkat ke kampus lebih awal hanya ingin mendapat tempat duduk yang strategis (ketahuan deh bangun pagi hanya jika ada ujian,he he he he). Bangun paginya ternyata bermuatan politis ya? Strategis di sini mengacu pada pilihan tempat. Sebuah tempat yang memungkinkannya secara leluasa mendapat limpahan rejeki -berupa jawaban soal- dari sekelilingnya.Ibarat striker sebuah kesebelasan,dia harus mampu menempatkan diri pada posisi terbaik untuk mendapat bola dan mencocornya ke gawang lawan dan gol.

Harapannya sudah sangat jelas yaitu ada banyak kesempatan untuk “mengkopi” jawaban dari mereka-mereka yang berotak encer. Tanpa harus belajar semalam suntuk,tanpa harus dopping kopi bercampur garam,pun juga tanpa harus bersusah payah menghapal dan menghitung aneka formula di buku teks-teksnya yang tebal dan mahal. Atau tanpa membuat tulisan kecil-kecil dikertas berukuran 2cm X 1meter,yang kalau dibuka bisa menjulur kebawah seperti mainan pegas karet. Mungkin cara-cara mencontek semacam ini sudah usang dan jadul ya?hingga perlu dicarikan alternativ yang lebih cerdas,hemat kertas dan memiliki effect yang sangat jelas dan terpercaya.Dan salah satunya penentuan posisi strategis sebagaimana diatas.

Caranyapun cukup sederhana,tidak serumit mennyelesaikan soal kalkulus atau fisika. Cukuplah datang lebih awal, menyiapkan tempat bagi yang dipercaya berotak encer. Tidak lupa berprilaku sedikit mesra dan bersahabat,kalau perlu dibawakan coklat satu bungkus (Mungkin dia sangat mempercayai hukum the law of attraction kali ya?). Dan sesaat setelah ujian dimulai jawabanpun sedikit demi sedikit ditransfer kepadanya. Sobekan-sobekan kertas berisi lembar jawaban begitu dinamis bergerak dari satu peserta ke peserta lainnya, Diberikan dengan gaya mengambil barang jatuh,atau yang sedikit radikal dengan jalan dilempar layaknya bola kasti.Dan bagi mereka yang duduk agak berjauhan,cukup kirim sms, sesaat kemudianpun jawaban sudah tersedia di inboxnya. Begitu mudahnya mengerjakan soal dewasa ini ya. Sebegitu tidak berharganya proses belajar bagi mereka,karena nilai telah menjadi tujuan. Karenanya pengalaman belajar tidak mereka perdulikan ,sejak lulus adalah tujuan utamanya. Perkara terampil dan terlatih itu nomer sekian, yang penting IP tinggi dan mencukupi untuk melamar pekerjaan sebagai PNS atau karyawan perusahaan swasta.

IP yang bagus memang menjadi salah satu pembuktian belajar kita. Semakin baik IP kita menunjukkan kemampuan kita. Namun,jika didapat dari cara-cara culas seperti diatas, haruskah IP menjadi kebanggaan dan konsideran utama keberhasilan sebuah pendidikan. Disisi lain IP yang baik mendorong tumbuhnya kepercayaan kita pada orang tua. Ujung-ujungnya sudah jelas,semakin baik IP kita, kucuran uang bulanan semakin lancar,bahkan tidak segan-segan orang tua menambah sedikit bonus karena keberhasilan itu.

Dorongan mendapat nilai istimewa dan sistem evaluasi yang cenderung menempatkan nilai sebagai parameter utamanya bagai botol menemukan tutupnya.Karena nilai telah menjadi tujuan ,maka aneka cara ia tempuh agar terhindar dari marah bahaya bernama ISAKOM (Ikatan IP Satu Koma) atau cap sebagai mahasiswa abadi (Yang karena cintanya pada almamater rela berlama-lama di kampus).

Sepertinya nilai telah berubah menjadi esensi dari sebuah proses bernama pendidikan.Pendidikan dan lembaga yang menyediakan layanannya pun tidak ubahnya mesin-mesin pembuat nilai.

Namun,banyak juga orang tua yang belum paham hasil evaluasi putra-putrinya yang kuliah.Biasanya pertanyaan mereka cukup singkat dan sederhana:sudah semester berapa?kapan lulus?. Pertanyaan ini menjadi menu wajib saat sang anak pulang mengambil jatah bulanannya. Semakin cepat lulus,semakin besar harapan mereka mendapati anaknya segera bekerja dan bisa menghidupi dirinya sendiri.Paling tidak kalau ada tetangga bertanya,dengan sedikit bangga dia bisa menceritakannya.Baginya bekerja adalah ukurankeberhasial pendidikan anaknya.

Namun ,sekali lagi,haruskah kerja jujur mereka kita nodai dengan sikap berpangku tangan dan culas. Bukankah keletihan dan kepedihan kerja keras mereka akan tergantikan oleh prestasi yang kita torehkan?,bukan kecurangan berbungkus nilai yang memuaskan?Dari mana kita memulai meminimalisir ketidakjujuran komunal kita?,kalau tidak dari diri kita sendiri,saat ini dan dari hal-hal kecil semacam menyontek. Semoga kita bisa lebih menghargai proses dari pada “hasil”. Ganbarou Pendidikan Indonesia!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s