SAAT GURU TERSERANG SYNDROME of TEACHING

Posted: April 29, 2012 in Cerita Dari Jepang

SAAT GURU TERSERANG SYNDROME of TEACHING

Diskusi kami dalam kuliah learning teaching bersama Анна Кулинаева,Mohammed Aboh Idris, Chikahiro Tsue,Kazuha Moriyama dan Yui Suzukida dengan Prof. Takaki,MA siang itu sangat menarik dan menantang sekali. Dalam kelas yang “dihuni” oleh 6 mahasiswa tersebut, sang sensei menyuruh kami untuk menganalisa sekaligus menentukan dikelompok type guru manakah kami-kami ini berada. The Explainers kah?…….Involvers kah atau Enablers?.
Belum pernah sekalipun saya mampu memberikan deskripsi dan alasan yang rasional sekali saat pertanyaan tersebut diajukan pada diri saya sebagai seorang guru. Saya selalu menganggap jikalau gaya mengajar sayalah yang lebih baik. Kadang, saya sering dibuat ragu atas jawaban itu sendiri. Kalaulah gaya mengajar saya tergolong yang terbaik, mengapakah selalu saya dapati banyak “kejanggalan” di dalam kelas yang saya ampuh. Entah itu karena sang murid merasa penyampaian materi yang terlalu bertele-tele,banyak ngomongnya daripada melakukan,maupun banyak ketegangan daripada kelenturan dan kegembiraan.Di sisi lain, saya berkeinginan sekali memiliki sebuah kelas yang keberadaan saya didalamnya tidak hanya dipandang sebatas penjual ilmu belaka (the knower) namun sekaligus sebagai penyulut api bagi berkembangnya pengetahuan anak didik.Entah mengapa keinginan itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Semakin keras usaha mewujudkan impian itu,semakin banyak pula kelemahan demi kelemahan yang di temukan dalam pembelajaannya.
Kalaulah anggapan saya ini boleh di kategorikan kesombongan,mungkin inilah yang menyebabkan saya kurang dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih baik. Anggapan sayalah yang terbaik di kelas itu,telah menjadikan anak didik tidak ubahnya sebuah cangkir yang terus saya gerojok dengan aneka macam pengetahuan.Dalam perspektif pendidikan,kata para ahli pendidikan pula, inilah metode pembelajaran Jug and Mug,Chalk & Talk.
Jika pertanyaan yang sama itu anda ajukan pada guru disekitar anda, saya yakin jawabannya akan relative sama. Mereka (guru) menganggap gaya mengajarnya selama ini adalah yang “terbaik”. Bahkan menganggap yang terbaik diantara para koleganya di sekolah. Dalam ukuran tertentu,mungkin benar adanya.Namun dalam konteks pembelajaran bisa jadi jawaban dan kepuasannya itu terlontar karena sang guru tidak menyadari dirinya terkotak dalam satu metode,type tertentu. Terjebaknya sang guru dalam kotak itulah yang mendorong dia berada pada zona nyaman (comfort zone). Sehingga dia merasa sangat cocok dan nyaman dengan gaya mengajarnya meski tidak didukung oleh peningkatan dan upgrading yang diperlukan bagi peningkatan kualitas pembelajarannya.
Kadangkala kita membuat ukuran-ukuran keberhasilan kita mengajar dengan sangat absurb. Kelas yang sunyi,siswa sibuk mendengarkan dan kosentrasi sesekali diiringi mencatat.Mengerjakan tugas dengan tenang, dan benar. Benarkah kelas yang demikian yang “berkualitas” menurut ukuran kebanyakan?. Meski ini bukan ukuran sebenarnya,namun seringkali kita jadikan indikasi sederhana untuk itu bukan?.
Kita juga tidak pernah tahu seberapakah proses belajar terjadi di ruang-ruang kelas kita. Banyak orang yang menganggap saat guru mengajar saat itulah murid belajar. Namun dalam kenyataannya antara mengajar dan belajar adalah dua hal yang berbeda. Belum tentu mengajar mendorong seseorang itu belajar.Belajar pada dasarnya mensyaratkan energy dan atensi dari pembelajar.Sesuatu yang harus diusahakan sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat mentransfer pengertian dan ketrampilan dalam otak siswa. Siswa sendirilah yang melakukannya.Sebagai seorang guru,yang bisa saya lakukan hanyalah menciptakan kondisi dimana mereka punya motivasi untuk belajar sendiri.
Prof.Takaki,MA menyebutkan jika guru terlalu banyak memerintah dan berbicara di dalam kelas,sesungguhnya dia telah terserang sebuah penyakit. Dan penyakit itu bernama “Syndrome of Teaching”. Sebuah syndrome yang mendorong seorang guru untuk terus berbicara, terus menerangkan dan terus memerintah muridnya ini dan itu. Dan itu terjadi pada tipe guru The explainer.
Adalah Andrian Underhill yang mengkategorikan mengajar dalam tiga gaya utama:The Explainer,The Involver, dan The Enabler. Ketika gaya itu tersusun secara berurutan dari yang hanya memiliki pengetahuan,methodology sampai yang memiliki simpati dan emphati. Tipe The Explainer adalah tipe guru yang menguasai materi ajar secara baik namun memiliki kemampuan yang terbatas dalam metodologi pembelajarannya. Tipe guru ini mendasari kegiatannya dengan bercermah. Sesekali murid mendengarkan dan mencatat ceramah kemudian menjawab pertanyaannya. Namun demikian,para siswa tidak secara pribadi terlibat dan tertantang untuk belajar lebih jauh.Biasanya siswa mendapat latihan soal setelah cermah selesai.
Tipe kedua adalah The Involver. Guru tipe ini sudah memahami metodologi dengan baik dan mampu menerapkannya dalam pengajarannya. Penjelasan mungkin jadi salah satu teknik yang digunakannya. Melibatkan siswa dalam pembelajaran namun masih ada control dalam kelas tersebut.
Tip eke tiga adalah The Enabler. Tipe guru ini telah mampu membagi control dengan siswa atau bahkan menyerahkan sepenuhnya pada mereka. Tipe ini memandang tugasnya adalah membangun lingkungan yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri dan berdasar kemauannya.Bahkan dalam kondisi tertentu,perannya menjadi tidak tampak,karena para siswa telah menemukan ritme dan kesenangannya dalam belajar.
Konon The Enabler lah yang mendorong terjadinya percepatan pembelajaran.Hal ini terjadi karena guru tidak hanya berfungsi sebagai agen pengetahuan semata,namun dia menjelma menjadi salah satunya penuntun,konselor, sumber pengetahuan jika dibutuhkan,mendasari belajarnya dalam koridor sentuhan simpati dan emphatic serta mendorong otonomi belajar anak didik. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kepribadian dan prilakunya yang baik adalah motivasi yang menghidupi pembelajarannya.
Akhirnya, barulah saya menyadari bahwa The Explainer lah tipeku. Terlalu banyak ceramah,suka main perintah dan terlalu mengontrol kelas, bahkan kadangkala berlebihan.Semoga kenyataan ini mendorong saya dan guru lainnya yang membaca coretan ini untuk tidak pernah puas atas pencapaiannya.Masih terlalu dini untuk menyebut diri kita sebagai pendidik jika maqam kita hanya pada level the explainer,bukan?Sungguhlah siswa kita mendambakan lahirnya para The Enabler baru, dan itu pastilah anda dan semoga saya termasuk juga di dalamnya. Selamat menjadi Guru The Enabler.Jangan pernah merasa lelah untuk menjadi yang lebih baik. The dream begins with a teacher who believes in you, who tugs and pushes and leads you to the next plateau, sometimes poking you with a sharp stick called “truth.” ~Dan Rather.
(Kouryukokusai Kaikan,Kumamoto University,Japan:25-4-2012:9:15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s