ANDAI DI JEPANG ADA MARKENYOT

Posted: April 29, 2012 in Cerita Dari Jepang

ANDAI DI JEPANG ADA MARKENYOT

Andai di Jepang ada markenyot,pastilah mereka menjadi orang-orang kaya baru di Indonesia (OKB) tanpa harus berebut sedekah dan angpao pemberian tuan-tuan kaya. Andai di Jepang ada markenyot,pastilah mereka mampu membeli rumah layak huni,dan tidak lagi tinggal di rumah tanpa jendela. Andai di Jepang ada markenyot,pastilah mereka juga bisa berkendara mobil bagus seperti APV atau Avanza,bukan gerobak kayu beroda karet. Andai saja di Jepang ada Markenyot,pastilah mereka dengan mudah menemukan barang rongsokan yang berkualitas tanpa harus berebut lahan TPA yang kadang dibarengi dengan aksi bunuh membunuh. Andai di Jepang ada Markenyot, pastilah mereka berhenti mencurangi timbangan dan aksi tipu-tipu kecilnya,Sayang itu hanya sebuah pengandaian. Dan ternyata Markenyot Indonesia belum ada di Jepang!
Mungkin anda bertanya-tanya tentang si markenyot itu,bukan?. Gerangan apakah ia sesungguhnya,manusiakah?gondoruwokah,atau semacam makanan?What the hell is that? . Namun bagi anda yang sudah pernah mendengarnya atau familiar dengan sebutan itu pasti mantuk-mantuk khan?.Ada berbagai padanan kata untuk markenyot. Dari yang mulai bercitra rasa sangat ndeso dan traditional sampai yang modern dan sedikit agak parlente. Dari second hand, pemulung,rosoan,dalbok,sampai markenyot itu sendiri.Ya,ini tidak lain adalah sebutan untuk pengumpul/pencari barang bekas!.
Keterkejutan saya sesaat setelah tiba di Jepang adalah keharusan membuang sampah tepat waktu dan tepat pemilahannya. Di Jepang,sampah dikelompokkan kedalam enam golongan yaitu: burnable garbage (sisa makanan,),paper materials,plastic packaging(label plastic pada minuman,seal),resource wastes(kaleng minuman soft drink),plastic bottles,landfill garbage(barang pecah bela,dll).Tidak hanya digolongkan, namun hari pembuangannyapun diatur secara ketat,misalnya barang sisa makanan di buang tiap hari selasa dan jumat. Bagi kita yang tidak terbiasa dengan tatakelola sampah yang sistematis ini menjadi persoalan sendiri. Membangun budaya disiplin memang tidak semudah membalik telapak tangan.Kebiasaan buruk itu kadang masih sempat-sempatnya muncul di Jepang,misalnya habis nyobek bungkus permen,kadang kita biarkan plastic sobekan berjatuhan. Namun,bit by bit,sedikit demi sedikit,akhirnya bisa juga menjadi tertib,tidak kalahlah sama orang Jepang,he he he.
Sampah di Jepang disebut Gomi.Terdapat penampungan bagi sampah di setiap perumahan atau apato. Jangan dibayangkan tempat sampahnya jorok kayak di Indonesia ya?,disini berbeda sekali,sangat bersih dan sangat nyaman di pandangmata.Di penampungan sampah inilah kita akan dengan mudah menemukan barang-barang yang sangat berharga,semacam kulkas,tv,tape,computer,microwave dan sejenisnya. Barang-barang ini meski masih bagus namun telah dianggap sampah.
Dan,kalau di Indonesia, semua tempat dianggap bak sampah,dengan begitu dimanapun tempat kita bisa seenaknya membuang sampah. Berbalik arah dengan Jepang. Untuk buang sampah elektronik,meja,kursi,springbed,atau peralatan lainnya musti bayar. Barang-barang itu baru boleh dibuang jika sudah ada stiker dari pemerintah kota. Untuk mendapat stiker mereka harus merogoh kocek dari Rp. 50.000 sampai ratusan ribu.Tergantung besar kecilnya dan jenis sampahnya. Beruntunglah kita yang justru mendapat uang saat membuang barang bekas. Dan markenyotlah yang menyelamatkan itu semua!Betul ga?Meski kadang profesi ini kita rendahkan,disisi lain ternyata sangat kita butuhkan ya?.Terlebih lagi kalau uang di dompet sudah nipis, timba dan bak mandi anakpun kadang jadi korban!he he he.
Di Jepang,Setiap setahun sekali, dan biasanya bulan Maret,ada pembuangan gomi besar-besaran. Sampah yang dibuang ini biasanya didominasi oleh buangan para mahasiswa yang telah lulus. Penulis tahun ini berkesempatan melihat secara langsung dan juga mengais barang-barang yang mungkin bisa di bawah pulang di tempat pembuangan itu. Semua barang ditaruh begitu saja di halaman,computer,laptop,microwave,printer,parabola,meja kantor,dll. Siapapun boleh mengambil barang tersebut.Bahkan boleh membawa sebanyak-banyaknya yang kita mau!. Dan Jika waktu “pamerannya” sudah usai,maka segeralah barang-barang itu dibuang ke TPA. Dan menjadi sampah beneran!he he he he.
Kalau anda mengunjungi kampus,jangan heran jika anda menemukan sepeda-sepeda motor bermodel matic,sport dan Harley tak bertuan yang parkir tahunan.Meski tergolong sepeda yang bagus-bagus,namun dibiarkan begitu saja tergeletak di parkir atau dibawah pohon.hujan dan panas menjadikannya kusam dan berkarat. Kadang saya berandai-andai,jika bisa menjadi markenyot disini,pastilah hal itu akan menjadi arubaito (partime job) yang sangat menjanjikan.Bayangkan saja, gembreng (kaleng biscuit,khong ghuan,dll) sekilonya bisa dihargai ribuan,lah ini besi dan mesin motor pastinya lebih mahal lagi khan?.Itu kalau sepeda motor,belum,sepeda pancal,mobil dan barang elektronik lainnya yang bisa kita kanibali dan laku dijual lagi!.Atau kita kirim langsung ke pasar loak di Comberan Malang atau pasar Demak Surabaya.Pasti pedagang disana menerima dengan tangan terbuka dan bahagia,terlebih lagi produk Jepang!Jepang sesuatu banget memang bagi bangsa Indonesia. Pastinya sangat menguntungkan menjadi markenyot di Jepang.Apalagi kalau bicara sampah tsunami di Sendai dan Fukushima kemarin,tidak terbayangkan nilainya.Bisa-bisa kita masuk Forbes 2.000.000: orang terkaya di Indonesia versi markenyot,ha ha ha ha.
Bukan berarti di Jepang tidak ada pemulung,tetap ada.Disini,pemulung biasanya membawa pick up dan menaruh pengeras suara di atas mobilnya. Dari pengeras inilah dia menawarkan diri untuk mengambil barang-barang bekas. Namun, bukan pemilik yang mendapat uang atas jasanya,melainkan sang pemulung itu sendiri.Ibarat berenang sambil menangkap ikan,begitulah kira-kira. Jadi sangat beda dengan yang terjadi di Indonesia dimana pemulunglah yang mengeluarkan uang sebagai bentuk pembelian barang bekasnya.
Dari sekelumit cerita sampah itulah tulisan ini lahir.Dengan harapan adanya pengiriman Tenaga Kerja Indonesia yang bergerak di bidang barang rongsokan ke Jepang. Pengiriman ini tidak saja akan mampu mensejahterakan TKI itu sendiri,namun juga akan mendatangkan devisa yang lumayan banyak. Pun juga menjauhakn orang-orang Indonesia dari hingar bingar politik tanah air yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Biarlah para markenyot itu bisa hidup mandiri dan mendapat uang halal dari usahanya. Bukan seperti pejabat dan politikus yang korup itu,mendapat uang dengan jalan menipu dan merampok uang rakyat. Yang bagus dibilang jelek dan yang jelek di bilang bagus. Ah,ini mungkin mimpi penulis disiang bolong, efek dari berdiam sendiri di kaikan tanpa teman dan camilan.!Sambil sesekali melepas pandangan jauh ke sungai shirakawa sambil membayangkan keluarga di Indonesia. Hidup Markenyot!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s