Sekolah 5 Senti: Renald Kasali

Posted: February 20, 2012 in Uncategorized

Sekolah 5 SentiRenald Kasali

Setiap
kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang
Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China
di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter
dengan pakaian ala Mao.

Di China, orang-orang tua di era Mao
jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy saat
upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian
terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak
celahnya dan di isi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa.Perhatian
saya tertuju pada jas hitam, baju putih, janggut panjang dan topi kulit
berwarna hitam yang menjulang tinggi di atas kepala mereka.

Menurut Dr. Stephen Carr Leon yang pernah tinggal di Yerusalem, saat
istri mereka mengandung, para suami akan lebih sering berada di rumah
mengajari istri rumus-rumus matematika atau bermain musik. Mereka ingin
anak-anak mereka secerdas Albert Einstein, atau sehebat Violis terkenal
Itzhak Perlman.

Saya kira bukan hanya orang Yahudi yang ingin
anak-anaknya menjadi orang pintar. Di Amerika Serikat, saya juga
melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar
bisa menyekolahkan anaknya. Di Bekasi, saya pernah bertemu dengan orang
Batak yang membuka usaha tambal ban di pinggir jalan. Dan begitu saya
intip rumahnya, di dalam biliknya yang terbuat dari bambu dan gedek
saya melihat seorang anak usia SD sedang belajar sambil minum susu di
depan lampu templok yang terterpa angin.

Tapi tahukah anda, orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti?

Dari Atas atau Bawah ?

Sekolah 5 senti dimulai dari kepala di bagian atas. Supaya fokus, maka
saat bersekolah, tangan harus dilipat, duduk tenang dan mendengarkan.
Setelah itu, apa yang di pelajari di bangku sekolah diulang dirumah, di
tata satu persatu seperti melakukan filing, supaya tersimpan teratur di
otak.

Orang-orang yang sekolahnya 5 senti mengutamakan raport
dan transkrip nilai. Itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya.
Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5
sentimeter ke bawah.

Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari
atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti,
hingga ke lutut. Kata Bob Sadino, ini cara goblok. Enggak usah mikir,
jalan aja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas.

Cuma, mulai dari atas atau dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal.

Tergantung berhentinya sampai dimana.

Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya
menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bisa
ngomong, menulis, apalagi memberi contoh.

Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai dengkul saja, seperti menjadi pengayuh becak.

Keduanya sama-sama berat menjalani hidup, kendati yang pertama dulu bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4.0.

Supaya bisa menjadi manusia unggul, para imigran Arab, Yahudi, China,
dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka
tidak sekolah hanya 5 senti tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala
hingga telapak kaki.

Pintar itu bukan hanya untuk berpikir
saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan
hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan
berbicara. Otak, tangan, kaki dan mulut sama-sama di sekolahkan, dan
sama-sama harus bekerja.

Sekarang saya jadi mengerti mengapa
orang-orang Yahudi mengirim anak-anaknya ke sekolah musik, atau mengapa
anak-anak orang Tionghoa di tugaskan menjaga toko, melayani pembeli
selepas sekolah.

Sekarang ini Indonesia sedang banyak masalah
karena guru-guru dan dosen-dosen nya – maaf-sebagian besar hanya pintar
5 senti dan mereka mau murid-murid nya sama seperti mereka.

Guru Besar Ilmu Teknik (sipil) yang pintarnya hanya 5 senti hanya asyik
membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau
terjadi gempa di Padang.

Guru besar yang pintarnya 2 meter
segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari
penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium
kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan.

Yang sekolahnya 5 senti hanya bisa berkomentar atas komentar-komentar
orang lain. Sedangkan yang pandainya 2 meter cepat kaki dan ringan
tangan.

Sebaliknya yang pandainya dari bawah dan berhenti
sampai di dengkul hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohi
orang-orang pintar, padahal usahanya banyak masalah.

Saya
pernah bertemu dengan orang yang memulainya dari bawah, dari
dengkulnya, lalu bekerja di perusahaan tambang sebagai tenaga fisik
lepas pantai. Walau sekolahnya susah, ia terus menabung sampai akhirnya
tiba di Amerika Serikat. Disana ia hanya tahu Berkeley University dari
koran yang menyebut asal sekolah para ekonom terkenal. Tetapi karena
bahasa inggris nya buruk, dan pengetahuannya kurang, ia beberapa kali
tertipu dan masuk di kampus Berkeley yang sekolahnya abal-abal. Bukan
Berkeley yang menjadi sekolah para ekonom terkenal.

Itupun
baru setahun kemudian ia sadari, yaitu saat duitnya habis. Sekolah
tidak jelas, uang pun tak ada, ia harus kembali ke Jakarta dan bekerja
lagi di rig lepas pantai.

Dua tahun kemudian orang ini kembali
ke Berkeley, dan semua orang terkejut kini ia bersekolah di Business
School yang paling bergengsi di Berkeley.

Apa kiatnya?

“Saya datangi dekannya, dan saya minta diberi kesempatan. Saya katakan,
saya akan buktikan saya bisa menyelesaikannya. Tetapi kalau tidak
diberi kesempatan bagaimana saya membuktikannya? ”

Teman-teman
nya bercerita, sewaktu ia kembali ke Berkeley semua orang Indonesia
bertepuk tangan karena terharu. Anda mau tahu dimana ia berada
sekarang? Setelah meraih gelar MBA dari Berkeley dan meniti karir nya
sebagai eksekutif, kini orang hebat ini menjadi pengusaha dalam bidang
energy yang ramah lingkungan, besar dan inovatif.

Saya juga
bisa bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama
seperti Anda, tetapi mereka tidak hanya pintar bicara melainkan juga
berbuat, menjalankan apa yang dipikirkan dan sebaliknya.

Maka jangan percaya kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya.

Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga
tidak masalah. Yang penting jangan berhenti hanya 5 senti, atau 50
senti. Seperti otak orang tua yang harus di latih, fisik anak-anak muda
juga harus di sekolahkan.

Dan sekolahnya bukan di atas bangku,
tetapi ada di alam semesta, berteman debu dan lumpur, berhujan dan
berpanas-panas, jatuh dan bangun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s