MANJADDA WA JADA

Posted: February 5, 2012 in Uncategorized

MANJADDA WA JADA

Manjadda wa jada! Itulah jawaban yang beliau berikan saat kami Tanya alasan dibalik “aksi” nekadnya itu.Bagaimana tidak nekad, di usia 53 tahun masih memiliki keinginan yang “ABG” banget. Aksi yang beliau lakukan ini bukanlah semudah membalik telapak tangan,ya, tidak semudah itu.Terlebih lagi dilakukan di tengah kondisi musim dingin yang sangat ekstrim tahun ini.Badai salju dan suhu yang merosot tajam sampai minus 38 C. Namun dengan semangatnya itulah ia mampu membakar dirinya di tengah kedinginan di sepanjang lorong-lorong yang menghubungkan satu kota ke kota lainnya. Dengan semangatnyalah ia mampu memperpendek jarak ratusan kilometer dalam persepsi-persepsi di benaknya. Dan dengan semangat itulah ia melihat setiap tantangan tak ubahnya sebuah permainan yang harus tepat dan cepat ia selesaikan. Dan akhirnya iapun memenangkan permainan itu!Manjadda Wa Jadda.
Memang tidaklah muda untuk melakukan perjalanan jauh di musim dingin semacam ini. Apalagi jika perjalannya dilakukan dengan mengayuh sepeda angin. Kita bisa membayangkan tantangan yang dihadapinya. Tidak usah terlalu jauh, saat kita bersepeda dari kaikan ke kampus kumadai di pagi hari,terlebih lagi dibawah suhu minus,kita merasakan cobaan yang begitu berat,tidak saja telinga yang nyeri pun juga badan yang terasa seolah-olah membeku. Kadang hidung mengeluarkan air ditengah hempasan suhu dan angin yang sangat dingin. KOndisi semacam itu kadang membuat kita malas untuk segera bangun dan memulai aktifitas.Lain halnya dengan beliau yang tetap semangat untuk mengejar mimpinya meski dingin,tanjakan,turunan,kelaparan,haus membayangi setiap langkahnya. Dari sinilah semangat itu patut kita jadikan salah satu suntikan berarti bagi jiwa kita.
Kondisi yang ekstrim ini jugalah yang telah merenggut 52 nyawa di Jepang,Rumania, Polandia dan beberapa Negara lainnya. Dan kondisi ekstrim semacam ini akan hanya menyisahkan mereka yang memiliki ketahanan tubuh yang super “fit”. Dan beliau satu bagian dari itu.
Jarak ratusan kilometer beliau lalui tanpa rasa menyesal sedikitpun.Meski tanjakan dan gunung menghadang didepannya,namun keyakinannya telah menghapus kepedihan itu dengan melihat jalan menurun yang akan segera ia temukan. Sama halnya dengan gelapnya malam bukanlah sesuatu yang harus kita sesali.Mengingat kegelapan di malam hari adalah pertanda baik akanmunculnya sinar matahari sesudahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s