MENJADI SEKOLAH HEBAT

Posted: January 20, 2012 in Cerita Dari Jepang, Gagasanku

MENJADI SEKOLAH HEBAT

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo
Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi

Chie Ogata san,begitulah kami memanggilnya. Beliau adalah seorang guru muda dari Ozukita Junior High School di Kumamoto. Dalam kegiatan bulanan diskusi kami,beliau membawakan topic diskusi yang sangat menarik: My Perfect School. Topik ini terinspirasi oleh bukunya Mary Spratt berjudul A Language Development Course . Buku ini diterbitkan oleh Cambridge Teacher Training and Development.
Diskusi ini menjadi menarik karena masing-masing pesertanya memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang sekolah yang baik itu sendiri. Perbedaan ini bisa jadi dipicu oleh pengalaman-pengalaman masa lalu mereka,modalitas belajar bahkan kekurangan referensi factual tentang sekolah yang baik itu sendiri. Namun sejatinya berbagai harapan itu pada akhirnya bermuara pada satu keinginan besar yaitu:sekolah yang menyenangkan.Kondisi menyenangkan ini tidak hanya terbatas pada guru,murid,lingkungan dan fasilitas belajar,namun juga stake holder yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam aktifitas sekolah tersebut. Sehingga sekolah benar-benar menjadi”rumah ke dua” bagi tumbuh kembang mereka. Atau bahkan menjadi “rumah pertama”bagi mereka yang mengalami permasalahan di rumah.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana menjadikan sekolah kita sebagai tempat yang menyenangkan untuk mengembangkan diri anak didik?.Fasilitas sekolah yang serbah canggih kah?,input anak didik yang berkualitaskah?,atau justru guru-guru yang berkualitaskah yang menjadi dasar lahirnya sekolah hebat itu?. Sebagian orang mungkin memandang bahwa yang baik itu adalah sebuah sekolah yang gedungnya megah,fasilitasnya canggih,dan alumninya banyak menjadi”orang”. Namun ada lagi yang menganggap bahwa sekolah yang hebat itu tidak cukup hanya dengan fasilitas yang serbah wah,namun juga biayanya yang sangat mahal. Semakin mahal biaya sekolah itu maka semakin baiklah layanan yang diberikan. Benarkah?mungkin bagi mereka yang menjadikan pilihan sekolah tidak hanya sebatas investasi masa depan benar adanya. Karena pilihan sekolah itu juga menunjukkan tingkat prestice bagi kehidupan mereka. Bagi saya dan mungkin anda yang lebih memandang pendidikan sebagai tempat “memanusiakan” anak didik kita,anggapan itu menjadi sedikit kabur adanya.
Salah satu teman saya,Taaaki san, justru melihat menariknya sebuah sekolah dari kebebasan dari setiap siswa untuk memilih sendiri mata pelajaran yang mereka sukai. Pendapatnya langsung mengingatkan saya pada sosok TOTO CHAN,GADIS CILIK DI JENDELA.Sebuah kisah inspiratif bagaimana sekolah seharusnya melayani anak didik sesuai dengan potensi psikologis dan kognisi yang mereka miliki. “Toto-chan, Gadis Cilik di Jendela” adalah sebuah buku yang berkisah tentang gadis kecil berumur 7 tahun bernama asli Tetsuko yang bersekolah di Tomoe Gakuen. Dalam usia 7 tahun, umur kelas 1 SD, Toto-chan sudah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bandel. Padahal Toto-chan bukan bandel, tapi dia punya rasa ingin tahu yang besar.Bayangkan, dia memanggil pemusik jalanan saat jam pelajaran berlangsung dan meminta mereka memainkan musik. Tentu saja kelas jadi tidak “kondusif” dalam ukuran gurunya. Keanehan-keanehan inilah yang kemudian melahirkan stigma bahwa dia adalah anak bandel dan kalau dibiarkan bisa mengganggu stabilitas sekolah.
Dan tidak hanya itu saja perangainya,suatu saat,dia menjulurkan kepalanya keluar jendela dan bertanya,”Hei, senang banget ya?,lagi apa kamu ?”.Dia mengatakannya berulang-ulang. Karena penasaran dan mengganggu suasana belajar, guru Toto-chan melihat keluar jendela, mencari tahu siapa yang diajak bicara oleh Toto-chan. tidak ada siapa-siapa karena ternyata yang diajak bicara adalah sepasang burung Walet yang sedang membuat sarang. Di Tomo Gakuen, anak-anak diajarkan melakukan apa saja yang mereka sukai, di pagi hari masuk kelas, mereka diberi selembar catatan berisikan daftar pelajaran dan mereka boleh memilih ingin belajar apa yang pertama kali ingin mereka pelajari. Jadi di dalam kelas tersebut ada anak yang belajar Fisika duluan, atau berhitung duluan, atau sastra Dari kisah inilah kemudian teman saya tadi itu ingin memberikan sedikit keinginannya terhadap model pendidikan yang baik baginya.
Cerita Ini menarik sekali mengingat,banyak siswa yang belajar karena dorongan orang tua bahkan tidak sedikit yang belajar sesuatu karena keputusan sang guru/wali kelas. Kondisi ini juga telah menyebabkan munculnya strata kelas dalam pembelajaran. Pengelompokan siswa cerdas dalam satu kelas, serta siswa “rata-rata” di kelas lain semakin memperjelas dikotomi itu. Kelas social dan Bahasa selalu identik dengan kelas”nakal”. Sterotyping ini benar-benar adanya. Karena mereka menganggap dirinya buangan setelah tidak “kecantol” di IPA. Sedangkan kelas IPA selalu diidentikkan sebagai kelas yang menyenangkan,memudahkan guru melakukan pembelajaran dan sebutan yang mengenakkan lainnya. Bahkan tidak jarang guru banyak yang memilih mengajar di kelas IPA dibanding di dua kelas lainnya.Karenanya kemudian, guru-gur PKN,Sejarah,Olahraga kurang paforit dibanding misalnya dengan guru Fisika,matematika, Biologi,Kimia atau sejenisnya. Makanya Taaki san memiliki pemikiran yang sama dengan kecenderungan yang kita hadapi di tanah air.
Kembali ke topic sekolah yang HEBAT, saya mengutip salah satu saran yang dikemukakan oleh Jim Rosborg (et all) dalam bukunya: The Perfect School. Menurutnya, ada 8 hal yang musti dipertimbangkan dalam menciptakan sebuah sekolah yang hebat. Sekolah yang hebat-masih menurutnya- paling tidak memiliki: Perfect Teachers,Perfect Staffs, Perfect Principals Service, Character/Perseption, Curriculum/data /diversity. Finance/Academic Gap dan Hiring and Firing. Terkait dengan sekolah dimana kita mengabdi atau menjadi managernya, mana diantaranya yang telah kita miliki?semuanya?atau tidak satupun dari prasyarat yang dikemukan oleh Rosborg yang telah terpenuhi di sekolah kita. Jangan berkecil hati,inilah saat yang tepat bagi kita untuk mrmulai membangun sekolah yang hebat itu.
Pada tulisan kali ini,mari kita break down salah satu prasarat sekolah HEBAT (saya lebih suka memakai kata Hebat untuk Perfect,Thomas Amstrong menyebutnya sebagai Sekolah para jawara)) sebagaimana yang diutarakan oleh Rosborg diatas:Perfect teachers.Guru memiliki peran yang sangat sentral dalam pembelajaran. Meski saat ini banyak peran guru diambil alih oleh teknologi, namun peran krusialnya tetap tidak bisa tergantikan. Peran krusial apa sajakah yang tidak mungkin tergantikan itu?salah satunya adalah kepengasuhan. Inti dari pendidikan itu salah satunya adalah kepengasuhan dari tidak tahu menjadi tahu,dari tidak berbudaya menjadi berbudaya, dari tidak baik menjadi baik.
Guru yang baik adalah sosok yang mampu menjadi pengasuh bagi kehausan sang murid akan rahasia-rahasia kehidupannya. Ia seharusnya menjadi tumpuan sekaligus sandaran bagi pencarian pengetahuan-pengetahuan yang mengganggu pikiran sang anak didik. Guru tidak hanya dituntut untuk sabar, telaten,pantang menyerah,ikhlas,jujur namun lebih dari itu. Sosok guru harus mampu menjadi isnpirasi tiada henti bagi sang murid untuk menjadi lebih berarti dalam kehidupannya kelak dikemudian hari.Seorang guru harus mampu menumbuhkan keyakinan dan kecermelangan potensi anak didik mengingat ini adalah bagian dari kepengasuhan itu sendiri. Menurut saya inilah yang disebut Perfect teacher. A Perfect Teacher selalu berfikir kreatif dan melihat segala sesuatu di luar kontek (thinking out the box). Dan member ruang yang sama besarnya untuk anak didiknya melakukan hal yang sama. Dia adalah sosok yang tidak terkebiri oleh kurikulum, namun ia harus menjelma menjadi sosok yang bebas dan kreatif mengeluarkan ide-idenya bagi perbaikan pembelajaran. Ia juga harus mau menerima apapun perbedaan dan cara berfikir anak didiknya. Karena baginya, kesalahan adalah bagian terpenting dari kurikulum itu sendiri.Bernard Shaw membagi guru menjadi 4 golongan dan posisi tertinggi itu dicapai oleh guru agung (great teacher:perfect teacher) yang selalu menjadi inspirasi tiada henti bagi anak didiknya: Great teacher inspires!Perfect Teacher.Dan saya yakin itu adalah anda!.
Lebih jauh, guru yang baik itu juga ditopang oleh citra diri yang ideal. Bagaimanakah citra diri guru ideal tersebut?. Mengenai citra guru ideal, UNESCO telah melakukan penelitian terhadap 5000 siswa di 50 negara (dikutip dari: ejournal.stainpurwokerto.ac.id/index.php/…/47). Dan dari hasil penelitian itu didapat bahwa
(1) Guru adalah seseorang yang pandai memotivasi, menghibur, dan menjadi mitra belajar
(Afrika)
(2) Guru memberi kehidupan bagi anak-anak, seperti air hujan terhadap lading (Meksiko)
(3) Guru mesti sayang, percaya, dan bersahabat, pandai mendengar, dan mengert juga penuh gairah dan penuh perhatian. Guru disukai karena senyuman dan katakatanya
yang ramah (Selandia Baru)
(4) Guruku pandai menyanyi, pandai bermain, adil, dan pengertian (Vietnam)
(5) Guru menyayangi kami seperti anaknya dan selalu menjawab pertanyaan kami
walaupun pertanyaan itu bodoh.
(6) Guru yang baik memperlakukan laki-laki dan perempuan sama (Austria)
(7) Guru tidak boleh mempunyai siswa kesayangan dan tidak membedakan yang
kaya dari yang miskin, yang pandai dari yang kurang pandai (Zimbabwe)
(8) Guru yang baik tidak suka marah dan mengantuk (Gabon)
(9) Guru jangan mudah marah dan kaku, itu membuat kami takut dan tidak mau
datang ke sekolah (Ceko)
(10) Guru harus berperilaku terpuji karena kami menirunya (Ghana) dan mengajarkan
hal-hal yang baik (Chile)
(11) Aku suka guru yang menjadikan kelas menyenangkan (Portugal) dan
membantuku berpikir dan mencari jawabannya untukku (Zimbabwe)
(12) Guru musti cakap secara akademik (Tanzania), mau tetap menemani siswa waktu
istirahat (Korea Selatan) (
Thus, sekolah yang baik selalu memiliki guru-guru yang hebat, seorang guru yang tidak hanya pandai memberi materi semata, namun mampu membangkitkan raksasa yang tertidur (Aweakening the giant within:Tony Buzan), pandai memotivasi, menginspirasi, dan yang terpenting tidak terkotak dan terkungkung oleh kurikulum. Semoga kita bisa menjadi guru inspiratif itu, karena ialah yang akan mengkilaukan kembali pendidikan kita yang terpuruk. Semoga,Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s