Japan:Here I Come (part 4)

Posted: March 27, 2011 in Uncategorized

Malam terus beranjak menuju pagi, namun mata ini masih sulit terpejam.Pikiran melayang-layang tak tahu arah berlabuhnya.Tidak terasa jam yang tergantung di tembok sudah menunjuk kearah pukul 00:00 malam!Ya, tengah malam.Sedetik lagi malam akan berganti hari.Kudengarkan detak jam dinding begitu nyaring ditengah tertidurnya hiruk pikuk Jakarta.”Ya,Allah inilah hari dimana aku menapakinya untuk sebuah cita-cita”,Jika ini memang rejekiku,maka berilah hambamu ini kekuatan dan jalan untuk meraihnya”Amien…….kubasuh mukaku dengan kedua telapak tangan sebagai tanda bersyukurku karena masih diberi kesempatan tuk bertemu hari itu.Sesaat sebelum tidur, ku mendengarkan audio brain wave (upgrading otak) karya Erbe Sentanu.Ternyata relaksasi melalui suara alam itu menghanyutkan diriku dalam keheningan dan kesunyiaan malam hingga tak terasa aku telah berada di alam mimpi.Katanya Erbe Sentanu:Gelombang otak Teta.
Suara deru mobil di kejauhan membangunkanku di pagi itu.”pagi telah datang.Harapan itu kini ada didepan mataku.Aku bergegas menuju masjid di komplek Departemen Keuangan.Kira-kira 200 meter dari tempatku bermalam.Segarnya air wudhu memantik molekul dan kimia jiwaku.”Pagi telah datang,saatnya melangkah meraih harapan”gumamku dalam hati.
Segelas teh hangat,pisang goreng dan 2 kerat roti cukup untuk mengganjal perutku pagi itu.Kubuka tas cangklongku,dimana aku meletakkan baju dan celana untuk wawancara hari ini. Di dalam Bungkusan Koran bekas,disitulah baju dan celana diletakkan oleh istriku kapan hari sesaat mau brangkat ke Jakarta.Baju batik biru tua itu kukenakan dengan celana gelap hitam pemberian sekolah 2 tahun yang lalu.Sedangkan baju batiknya aku beli di pasar klewer pada bulan desember tahun lalu saat kami mengadakan study tour ke Jogja. Entah karena sugesti, aku merasa nyaman memakai kedua pakaian itu.Dan yang lebih penting membuatku tambah optimis.Kok bisa ya?
Kulihat Ebong sudah siap mengantarku ke halte busway di senayan.”Senayan?tanyaku keheranan. Setiap mendengar senayan, pikiranku selalu menuju stadion terbesar dan termegah di Indonesia.Tepat pukul 7:00 kami mulai menyusur jalanan Jakarta,lima belas menit kemudian kami dihadapkan pada kemacetan di hampir semua jalan. Beruntung sekali aku memiliki Ebong, yang sangat lihai mencari cela dan kesempatan tuk menerobos kemacetan Jakarta.Jika kita tidak tahan, bisa-bisa dibuat stress olehnya.Jam sudah menunjuk pukul 7:45 menit. Tanda-tanda halte bus way senayan juga belum tampak. Yang ada hanyalah deretan panjang mobil-mobil mewah dijalan. Waktu terus beranjak mendekati pukul 08:00.Pikiranku tambah kacau ditengah kemacetan itu.Aku jadi ingat pesan temanku bahwa lebih baik berangkat pagi-pagi ketimbang terlambat karena kemacetan Jakarta. Aku semakin was-was jika keterlambatan memaksaku menunda mendapatkan beasiswa ini. Mengingat Jepang sangat menghargai waktu dan membeci sekali keterlambatan. Bayangan keterlambatan terus menghantuiku di sepanjang jalan itu.”Mas ini haltenya”kata ebong padaku.”Alhamdulillah sampai juga.Ebong mengatakan padaku jikalau jarak senayan ke bundaran HI hanya 10 menit.Sekarang da jam 08:05, berarti selambat-lambatnya aku akan sampai di Bundaran HI Jam 8:20.Masih ada waktu 10 menit tuk menuruni tangga halte busway dan berjalan menuju kedutaan jepang.Namun sudah jam 8 lewat 10 menit busway yang akan membawaku ke Bundaran HI belum juga nongol.”Ya,Allah jika ini memang rejekiku, maka berilah kesabaran dan kesabaran dan kesabaran,kataku lagi.Mataku selalu tertuju pada jam ditangan, dengan sesekali melongok ke seberang tuk melihat kedatangan busway.Jarum jam terus merengsek ke angka 15,namun busway belum juga nongol.”Alhamdulillah”seruku dengan perasaan berbunga-bunga sesaat setelah mengetahui busway mendekat ke halte.Aku langsung naik,setelah lima menit aku mulai tersadar”ini benar ga ke bundaran HI ya?jangan-janan aku salah lagi naik seperti kemarin?bayangan it uterus hadir disepanjang jalan menuju bundaran HI.Remang-remang aku bisa melihat air mancur di kejauhan.”Alhamdulillah,Terima kasih ya Allah,aku tidak salah jalur lagi.Tepat jam 08:25, ini berarti 5 menit menjelang wawancara,busway merapat di halte bundaran HI. Segera kumelompat dari bus way dan dengan setengah berlari ku turuni tangga-tangga halte di depan wisma nusantara tersebut.Dan,Leeeeeeegaaaaaaa!akhirnya tepat jam 08:30, sesuai jadwal undangan wawancara,aku kini telah berada di depan pintu masuk kedutaan besar Jepang.Tiada yang bisa menggambarkan kebahagiaanku hari itu kecuali rasa senang bisa tepat waktu,meski mengalami banyak kendala di perjalanan.
Ku melihat banyak orang telah mengantri di depan pintu masuk yang dijaga oleh lima satuan pengamanan tersebut.Setelah menjelaskan kedatanganku pada pak satpam,aku langsung diarahkan ke bagian kanan depan gedung itu.Kulihat wajah-wajah yang asing bagiku,namun aku bisa menduga jikalau mereka pastilah guru. Kuumati satu persatu, dari ujung kiri kekanan.Ya!lelaki muda berbadan agak subur itu temanku saat test di Surabaya.Kudatangi dia, dan dengan wajah yang berseri-seri dia kemudian merangkulku sambil berkata”Alhamdulillah mas, akhirnya kita sampai juga di Jakarta.Meski kami bertemu sekali, namun kami cukup akrab dengan dia.Oh ya, saya hampir lupa mengenalkan pada anda sahabat baru saya ini.Namanya Ridha Ashari, guru SMA di Kalimantan Selatan. Setelah berangkulan dengan Ridha, kemudian Ridha mengenalkanku pada peserta lainnya:Al Gamar, Andri, Indah,Hirfa dan yang lainnya.Sesaat kemudian pintu masuk dibuka dan kami mulai mengantri di depan pintu masuk.Karena kami termasuk undangan, kami diperbolehkan masuk tanpa meninggalkan KTP atau tanda pengenal lainnya.Dinding-dinding gedungnya sangat kokoh, dengan langit-langit yang juga kokoh,lantainya mengkilat,sepertinya baru saja di bersihkan.Di sebagian dinding selasar pintu masuk itu banyak ditempel tulisan-tulisan jepang.Aku tidak paham dan mengerti, yang bisa kulakukan adalah menterjemahkan dari bahasa inggrisnya yang selalu ditaruh dibawah tulisan jepang itu.Di depan kami sudah ada pintu baja,kelihatannya tersistem secara otomatis,di ruangan itulah kami memasukkan tas dan bawaan kami di ruang metal detector. Takut juga kedutaan jikalau kami membawa bom buku, ha ha ha.Tapi kami bisa pastikan bahwa kami ini adalah ,laskar pelangi (ikal-ikal setengah tua yang mencari beasiswa) dan bukannya lascar mati atau pasukan kamikaze.Mereka sangat percaya sekali, mengingat tampang kami cool semua dan tidak menampakkan gelagat apalagi kapasitas sebagai kurir bom.
Setelah berhasil melalui metal detector itu kami diarahkan menuju lantai dua.Tempat dimana atase pendidikan mengantor. Sepanjang jalan menuju lantai dua, tak henti-hentinya kami berdua (ridha dan saya) mengagumi kebersihan dan desain gedung yang rapi itu.”Lantainya bagus,keramiknya langsung kiriman dari jepang ya”kata Indah bergurau pada yang lain”.Kontan saja gurauan itu disambut ger geran oleh kami.Lantai dua gedung itu terbagi menjadi dua bagian.Disebelah kirinya terdapat perpustakaan yang memajang dan menyimpan semua pernak pernik tentang Jepang.Sedang sisi kananya terdapat aula yang cukup besar dan dingin,Maklum berpendingin (AC).Disebelah kanan pintu masuk aula itu terdapat kamar kecil yang bersih dan mewah.Mewah untuk ukuran kami tentunya.Dan tempat itulah yang sering saya kunjungi.Entah sekedar untuk membasuh wajah atau buang air.
Didepan aula itu sudah tersedia kursi sandaran berwarna biru. Kursi itu ditata berbanjar 4 kebelakang.Letaknya persis di sebalah kiri pintu masuk aula.Kulihat teman yang lain asyik berfoto ria, ada yang santai,ada yang asyik baca buku.Ku duduk di barisan belakang.Lalu kubuka buku baruku:La TahzaN:Pengalaman inspiratif mahasiswa Indonesia di Jepang.Aku meski telah menamatkannya,namun sangat enak untuk dibaca, apalagi menjelang wawancara ini. Di depanku ada seorang lelaki, tinggi besar, berbaju kuning tua dan dilehernya digantungkan dasi.Sangat necis dan rapi. Menunjukkan jikalau dia pastilah guru dari lembaga bonafit di Jakarta.Tidak seperti kami (saya dan Ridha) yang berpakaian seadanya.Kulihat lelaki tadi mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya.Wooow, tenyata dia sudah menyiapkan wawancara itu dengan baik.Aku bisa melihatnya dari kertas yang berisi peta konsep itu (mind map).Sebuah alur berfikir yang sangat fenomenal ciptaan Tony Buzan.
Tepat pukul 09:00 kami dipersilahkan memasuki ruangan aula tersebut. Didalam ruang aula sudah menunggu dua staff kedutaan. Kami kemudian mengenalnya dengan nama bu Lis dan Pak Irham.Beliau bercerita singkat tentang beasiswa ini.Kemudian bu Lis mengajukan pertanyaan singkat”Siapa yang kemarin test bahasa jepang/Inggris. Saya mengacungkan jari saat beliau bertanya siapa yang mengikuti test bahasa inggris.”Sekarang gentian,yang bahasa inggris mengerjakan bahasa jepang dan sebaliknya,waktu untuk bahasa jepang 2 jam.”Alamaaaaaaaak,kata teman sebelahku dengan sedikit tidak percaya. Soal kemudian dibagikan.Semua memakai huruf hiragana,yang ku bisa baca hanyalah tulisan watashiwa/no,selebihnya tidak bisa.Aku sadar sedari awal jika semua ini hanyalah icebreaker sebelum wawancara.Beberapa menit kemudian kami dipanggil satu-satu untuk bertatap muka langsung dengan atase pendidikan.Untuk mengisi kekosongan sekaligus menunggu giliran wawancara, aku berjalan-jalan didalam aula itu.Kebetulan aula itu memajang pernak pernik barang dan makanan khas jepang.Dari mulai kaos Timnas Jepang, sampai mainan dan makanan terkenalnya. Disitulah aku juga baru tahu jika Tempura berasal dari jepang.Makanan itu cukup terkenal di tempatku,terlebih lagi bagi anak sekolahan. Jajanan itu ditempat kami dibandrol dengan harga 500 atau 1.000 perak.
Aku mendapat giliran ke 8.Sebelum dipanggil kami semua berkumpul di perpustakaan.Diperpustakaan kami bisa membaca ensiklopedia jepang.setiap peserta keluar dari ruangan, kami selalu bertanya:tadi ditanyain apa?trerus gimana?pokoknya rasa penasaran itu harus terjawab sebelum wawancara.Tiba-tiba, dari balkik kaca, petugas kedutaan memanggilku”Heriyanto Nurcahyo”, aku paham dan kemudian berdiri di depan pintu terbuat dari baja itu. Rupanya pintu itu dikendalikan dengan sebuah remote yang tidak bisa seenaknya kita keluar masuk.Seoarng ibu paruh baya,tinggi besar mengantarku menuju tempat wawancara.Ditengah perjalanan dia tertarik terhadap kota asalku yang mungkin kedengaran agak aneh di telinga orang Indonesia.Ya,nama GLENMORE terkesan kebarat-baratan.Aku jelaskan padanya jikalau nama itu berasal dari kata belanda.Mengingat daerah kami yang banyak bukit dan perkebunan aneka tanaman,dari coklat, rempa-rempah sampai buah-buahan.”Oh gitu ya?,menarik sekali ya dik?katanya lagi.Ya bu,jawabku singkat. Tak terasa kami sudah berdiri didepan pintu masuk sang atase.Dibukalah pintunya dan “Selamat pagi”kata atase singkat.”Dengan sedikit agak terkejut aku jawab”selamat pagi”.Please Introduce your self briefly”katanya lagi. Ku mulai menyerocos dengan penuh semangat menceritakan diriku sendiri.Dimana aku tinggal, pekerjaan,, sekolah,keluarga,etc…..Atase pendidikan semakin tertarik saat kuceritakan latarbelakang sosioekonomi murid-muridku, dia sedikit tak percaya saat saya ceritakan bahwa wali murid sekolahku memiliki pendapatan kurang dari 15.000 perhari.Dia kemudian bertanya lebih mendalam tentangsekolahku yang notabene berbeda dengan yang lain.Meski sekolah negeri, SMA dimana saya mengajar berada di dalam pondok pesantren.Inilah yang membedakan dengan sekolah yang lain.Dia semakin tertarik untuk menggali motivasiku mengapa mengikuti program ini. Pendidikan karakter”jawabku singkat.Kemudian saya bercerita banyak tentang ranah ini. Akhirnya atase pendidikan mempersilahkan saya untuk bertanya.Setelah bertanya, beliau menyudahi sesi wawancara ini.Akhirnya wawancara yang terkesan angker didepannya, ternyata mudah dijalaninya,amien.Hari kedua ku di Jakarta memberiku pelajaran penting.Pertama,pengetahuan dan wawasan yang kita miliki bukanlah sesuatu yang instant.bisa diciptakan sesaat sebelum wawancara.Tetapi ia adalah proses yang terus-menerus hingga menjadi karakter dan nilai diri.Kedua,Optimisme dan keyakinan adalah sumber energi dari segala kesuksesan.Ketiga,Saling memberi dan menerima adalah upaya untuk memperluas wawasan dan kompetensi kita.Keempat.tepat waktu akan banyak membantu kita menyiapkan sesuatu.Edisi selanjutnya akan bercerita seputar pertemuan dengan kawan lama dan pernak-perniknya, jangan sampai ketinggalan ya?

Comments
  1. hirfa says:

    I like the st0ry..awes0me..hopefully we cn c0ntinue the episodes to Japan…n experience the real atm0sphere of Japan…Ganbarimashou!!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s