JAPAN:Here I COme (Part 3)

Posted: March 16, 2011 in Uncategorized

JAPAN:HERE I COME (part 3)
Jakarta!gumamku dalam hati. Pikiranku masih diselimuti oleh ketakjuban akan kota terbesar di Indonesia ini. Tidak saja karena gedung-gedungnya yang berlomba menghias langit,namun juga kemegahan dan fasilitas yang dimilikinya. Jakarta memiliki Plaza Indonesia, Wisma Nusantara, Stadion GBK,TMII,Monas,Ancol dll.Jakarta juga memiliki kereta listrik (KRL),Kopaja,Metromini,dan yang paling gres adalah busway.Fasilitas transportasi yang sangat membantu ditengah kemacetan dimana-mana.Jalananan di sepanjang Jakarta seakan tidak pernah berhenti untuk menahan berjuta ton-ton berat kendaraan yang menggilasnya tiap detik.Orang berebut menaiki busway,koridor demi koridor dipenuhi penumpang yang jemuh dengan kemacetan.Berhimpitan dan berdempetan adalah pandangan yang lazim.Ditengah kepadatan busway, kita musti hati-hati dengan barang bawaan,mengingat aksi kejahatan apapun bentuknya sangat mungkin terjadi.Jakarta telah mengaburkan mata:siapa orang yang tulus, dan baik dengan orang yang jahat. Mereka berpakaian sangat rapi, baju lengan panjang, necis, tas di pundak.Bagi kami yang biasa hidup di pedesaan, sangat muda untuk mengenali orang dari gaya berpakaian dan ksehariannya.
Terlepas dari sisi gelapnya, Jakarta memang menghadirkan syurga dunia. Tidak terasa jam ditangan sudah menunjuk angka 14:00, “aku sudah sampai Jakarta ternyata!’gumamku dalam hati.”kemana aku harus pergi? Kuambil HP ku lalu kutekan nomer dimana aku harus menginap dirumahnya.Beberapa saat kemudian saudara yang akan kutumpangi beberapa hari datang menjemputku.”Klik”helem terpasang di kepala,kami mulai menyusuri jalanan Jakarta dengan Tiger pesawatnya.Jalanan sangat penuh, berbagai jenis kendaraan tumpah ruah dijalanan itu,kami terjebak kemacetan, dengan cekatan saudaraku ini mengalihkan kemudi sepedanya ke jalur busway”.Woooow, gila!dengan kecepatan 80 kmh dia melaju dilajur busway.Benar memang, sebagaimana ku pernah melihatnya di televisi, ketidaktertiban berkendara telah menyebabkan busway,yang semestinya melaju tanpa hambatan,terganggu oleh aksi serobot sebagaimana yang kami lakukan.”Kami Bukan contoh yang baik tentunya.Jangan coba ditiru ya?.Sambil mengendarai sepedanya, Ebong (begitu kami memanggil) masih sempat menunjukkan tempat dan bangunan baru yang kami temui””.Itu RCTI”, begitu katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke pemancar besar nan tinggi di depan kami.Sebuah pemacar baja yang ditopang oleh empat pilar di sisi kanan dan kirinya.Sepeda terus melaju,menyisir ruang-ruang kosong di tengah terjebaknya mobil-mobil,”itu stasiun Metro TV, katanya lagi padaku.Bangunan tinggi itu tidak asing lagi bagiku,ya itu adalah stasiun Metro TV, pusat pemberitaan berpengaruh di Indonesia.Akhirnya kami sampailah di tempat tinggalnya. Gang buntu di depan POM Bensin Puri Kembangan itu adalah pintu masuk utama ke rumah saudaraku ini.Aku dapati petak-petak kamar yang sangat banyak di tempat itu. Pakaian tergantung di depan pintu masuknya. Ternyata semua penghuninya menjemur pakaiannya tepat di pintu masuk masing-masing rumah kontrakannya.Kontrakan itu berukuran 3 X 6 meter. Ia hanya memiliki satu kamar,ruang tamu dan kamar mandi yang menyatu dengan dapur.Segelas teh dingin menyambutku dengan hangat di rumah kontrakan itu. Setelah bertegur sapa dengan penghuninya, aku pamit untuk sekedar melihat-lihat Jakarta. Berbekal info dari istrinya Ebong, saya memberanikan diri untuk melihat tempat test wawancaraku keesokan harinya.”Metro mini nomer 85,kemudian cari halte busway terdekat, naik busway,jurusan HI”,kata istri Ebong. Berbekal info itu aku keluar kontrakan dan di tengah terik matahari yang menyengat itu,aku menunggu metromini bernomer 85.Lima belas menit setelah menunggu,akhirnya nongollah metromini itu.Metro mini, sebuah kendaraan bis kecil bercat merah biru itu kelihatan agak tua, bekas-bekas tembelan di dindingnya semakin menambah kotornya angkutan kota itu.Krek…krek…krek, suara yang muncul dari gesekan besi dibis tua itu,ditambah udara diluaran yang menyengat semakin membuat badan ini kegerahan dan kepanasan.Namun semua itu tidak menyiutkan nyali dan keinginanku untuk segera tahu Bundaran Hotel Indonesia (HI). Ikon kota Jakarta itu selama ini hanya bisa aku lihat di televisi dan gambar di buku sejarah saja.Metro mini hanya memuat tak lebih dari 10 penumpang,ada yang masih menggunakan seragam SMA, ibu-ibu yang mebawa tas belanjaan dan beberapa orang yang tampil necis dengan tas dan hem panjangnya. Angkutan ini terus merengsek ditengah kemacetan itu, aku jadi sadar, bahwa aku harus mencari halte busway terdekat. Sepanjang jalan mataku memelototi setiap ruas jalan tuk menemukan halte busway. Aku paham model dan warna cat halte itu dari liputan khusus tentang busway di salah satu televisi swasta beberapa saat yang lalu.”Itu dia”kataku dalam hati.Segera kuhampiri kenek metro mini itu.”Bang halte busway depan, kiri”jawabku berlagak orang Jakarta. Dengan uang 2000 perak aku telah diantar ke halte itu oleh metro mini.Sesaat kemudian aku telah sampai di loket busway.Rp.3,500, karcisnya, segera aku menunggu di ruangan dalamnya.Kuhampiri satpam yang berdiri di depan pintu masuk busway itu. Orangnya masih kelihatan muda, dengan seragam bak pramugara, dia Nampak sangat gagah.”Bundaharan HI arahnya kemana mas?tanyaku. “Pintu kanan mas”jawabnya sambil menunjuk papan yang digantung di langit-langit halte busway itu.Ku berdiri di pintu sebelah kanan untuk beberapa menit sebelum busway itu dating.Akhirnya aku benar-benar naik busway itu. Kebetulan busway masih kelihatan longgar dan tidak berjejal.Kudapati 4 perempuan duduk persisi didepanku. Mereka memakai jaket yang sama:krem.Salah satu dari empat perempuan itu asyik membaca sebuah buku. Kuamati dari jauh judul bukunya.Samar-samar aku bisa baca dengan jelas:KUnci Sukses.Wah buku yang seharusnya saya baca menjelang wawancara.Ketika sedang asyik baca buku, 3 teman perempuan lainnya asyik tertidur,sesekali mereka terjaga dan sesaat kemudian tidur lagi.Busway terus melaju menyusuri jalanan ibukota, halte demi halte telah kami lewati.Harmoni….harmoni, kata awak busway itu, aku masih belum paham, kulihat semua penumpang bersiap untuk turun.Termasuk 4 perempuan yang ada di depanku tadi.Karena semua penumpang turun, akupun turun.Akhirnya aku baru tahu jika Harmoni adalah tempat transit busway menuju beberapa tempat di Jakarta. Kumelangkah ke loket tuk beli karcis lagi menuju HI.Segera setelah karcis kupegang aku berdiri di depan pintu masuk untuk menunggu busway jurusan Blok M.Tak lama kemudian busway yang ditunggu datang.Sepanjang perjalanan menuju HI tak henti-hentinya mata memandang setiap jengkal tanah di sepanjang jalur busway itu. Kalau selama ini aku melihat kemegahan Jakarta melalui gambar di Koran,majalah atau televisi,kini aku menyaksikan dengan sendiri gedung-gedung itu.Busway terus melaju, terdengar suara dari speaker di dalam busway”Pemberhentian selanjutnya Bundaran HI” teng.AKu mulai bangkit dari tempat duduk, mataku terus memandang jauh kedepan mencari tahu dimana keberadaan Bundaharn HI yang sangat masyur itu.Samar-samar nun juah didepanku aku bisa melihat semburan air. Pikiranku langsung berkata:itu dia HI, benar saja, sesaat kemudian kami tiba di Halte Bundaharan HI.Dengan sangat bahagia aku turuni tangga keluar halte itu. Aku memilih belok kanan, karena itu akan membawaku ke depan Wisma Nusantara.Aku perhatikan bangunan besar di depanku.Ya, ternyata itu gedung yang aku kenal melalui acara Apa Kabar Indonesia TV ONE.Wisma Nusantara, itulah tulisan yang terpampang di bagian depan bangunan itu, aku terus menyusur trotoar di depan Wisma Nusantara itu, didekat bundaran Air mancur ,aku melihat dua orang satpol PP berdiri mengamati keadaan sekitar. Kudekati dua POl PP itu, karena ku membutuhkan info darinya.”Maaf pak, mau Tanya, Kedutaan besar Jepang mana Ya”kataku pada mereka berdua. Sambil menoleh kebelakang salah satu Pol PP itu menunjuk sebuah gedung disamping kiri Plaza Indonesia.”Itu mas gedungnya”jawabnya singkat.Akhirnya aku berbalik arah menuju gedung itu. Tepat didepan Wisma Nusantara,dua orang telah mencegatku,aku bisa membaca tag namenya:UNICEF.Sebuah lembaga dibawah PBB yang membidangi budaya pendidikan.Setelah menegur sapa, dia mulai bercerita panjang lembar tentang nasib ribuan anak yang tidak mengenyam pendidikan.Akhirnya, dia meminta kesediaanku untuk menjadi donator bagi proyek itu.”Cukup sisihkan 5.000 dari sisa belanjaan anda perhari ,anda menyambung hidup dan pendidikan anak-anak ini.Sesaat setelah itu dia menunjukkan formulir yang telah diisi.”Bapak memiliki credit card khan?.”Belum”jawabku singkat.”Belum dua atau tiga ya pak”timpalnya lagi. Kujelaskan bahwa aku memang benar-benar ga punya credit card.Jangankan credit card, ATM aja aku ga punya.Akhirnya ia makfum dan mempersilahkan diriku melanjutkan perjalanan.
Gedung berwarna agak ungu itu tinggi menjulang.Didepannya banyak polisi dan satpam berdiri di masing-masing pintu masuknya. Aku tahu bahwa itu pastilah Kedutaan besar Jepang.Aku tambah menjadi yakin sesaat setelah membaca papan berukuran 50 cm X 30 CM:JAPAN EMBASSY.Segera aku melintas didepannya, kuamati lagi,sampai diujung kanan bangunan itu aku kembali lagi. Kukeluarkan hp dan sesaat kemudian ku mulai jeprat jepret.Ketika berada di depan satpam.Dengan wajah garang dan kurang bersahabat dia memanggilku.”Buat apa Photo itu!Jangan sembarang memotret gedung ini, makanya harus Tanya dulu! Katanya ketus.Aku baru tahu jika memotret bangunan kedutaan itu sangat dilarang.Bahkan ada kedutaan yang menangkap siapapun yang memotret bangunannya. Alasan keamanan dan kenyamanan mungkin.Setelah di damprat keamanan itu,akhirnya aku kembali ke halte tadi dan menunggu busway yang akan membawaku kembali ke kebonjeruk.Sampai di harmoni ,kembali aku beli karcis,aku berniat menuju kebonjeruk.Didalam sudah aku lihat banyak sekali orang menyemut menunggu busway.Kuhampiri satpan yang berdiri di pintu masuk.”Kebon jeruk pak.”Sebelah kanan”jawabnya singkat.Sebuah busway datang, aku langsung naik.Penajaga it uterus memelototiku dengan rasa tidak percaya.Aku dipandanganinya sebagai manusia aneh.Busway itu hanya mengangkut 2 orang.Kelihatnnya penumpang yang satu juga pendatang baru di Jakarta sebagaimana aku. “Ini ke kebon jeruk yam as?tanyaku lagi.”Bukan,salah mas”ini ke pasar baruy”jawabnya.Aku kaget”Alamak”salah jalan.”Terus mas?tanyaku lagi.Turun halte depan dan nanti ke Harmoni.Di halte harmoni itu aku ketemu dengan petugas yang melototiku tadi,”Makanya Tanya kalau mau naik mas?katanya ketus.”Baris sini”timpalnya lagi. Aku berbaris dideretan paling belakang. Kebetulan saat itu waktu pulang kantor,hingga penumpang menjubel.Aku turun di halte depan kompas.Kemudian berjalan kea rah kanan, sampai lampu merah cevrolet.Dari sini aku bingung,kuamatai terus jalanan untuk menemukan metromini 85. Namun tak satupun yang nongol. 30 menit menunggu,akhirnya aku menghampiri ojek yang mangkal dii sisi kanan ruas jalan kebon jeruk itu.”Mau kemana bang?tanay sang ojek.”Puri kembangan”jawabku singkat.Rp.20.000,mau?kalau ga mau ya sudah!,katanya lagi.Aku ceritakan pada sang ojek jika aku berhenti di depan POM bensin puri kembangan. “Ya saya paham”. Dia memberiku helem kukenakan, dan dia mulai mengendarai sepeda Yamaha Veganya.Aku sungguh takut dibocengnya. Ia dengan kecepatan tingginya menyusur dan salip menyalip kendaraan yang ada didepannya.Kadang dia harus masuk disela-sela mobil yang terhenti karena macet. Aku menjadi sangat was-was dengan prilaku mengendaranya. Dia terus membawaku jauh,Balai Kota Jakarta Barat terus,hingga sampai jalan tol baru.Aku baru sadar jika dia telah membawa jauh dari puri kembangan.Aku masih berpositif thinking,dengan mengomel dia selalu menyalahkanku karena tidak memberi alamat yang jelas. Setelah berputar-putar selama 30 menit akhirnya tukang ojek kembali menyusur jalanan yang aku kenal.”Itu POM bensinya”kata ku gembira.Segera ia belokkan setirnya.Alhamdulillah,akhirnya aku bisa kembali”.Ada 3 pelajaran penting yang aku dapat dari jelajahku di Jakarta ini. Pertama, pembelian karcis busway berlaku untuk tujuan mana aja, selagi kita masih di halte tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.Kenyataan yang aku lakukan adalah bahwa disetiap turun halte,aku selalu beli karcis. Untung ga mahal,he he he. Kedua:Jangan sembarangan memotret.Bisa bisa kita dipenjara.Apalagi kalau yang dipotret bangunan-bangunan penting. Ketiga:Malu bertanya sesat dijalan.Karena malu bertanya aku salah naik busway, karena malu bertanya aku ditipu tukang ojek.Oh nasib orang udik pergi ke kota besar. Jakarta oh Jakarta.Bagaimana perjalanan saya menuju kedutaan untuk wawancara,pertanyaan dan jawaban apa yang aku berikan kepada atase pendidikan, dan bagaimana rasanya ketemu teman lama, ikuti tulisan ke 4 saya.

Comments
  1. evie sufiani says:

    ya ampun her…. Btw, biasanya siy begitu tukang ojek. Naik busway selalu beli tiket?. ya ampun…

    • theguru216 says:

      alhmdulillah vie,berkat tukang ojek tuh,aku tahu Jakarta lebih banyak he he,selalu beli tiket,itung-itung amal ke bang yos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s