Japan:Here I Come (Part 2)

Posted: March 15, 2011 in Uncategorized

JAPAN:HERE I COME (Part 2)

Bus Safari Dharma Raya melaju dengan kecepatan sedang sesaat setelah saya menaikinya.Sedangnya kecepatan ini bukan karena kemampuannya yang terbatas, lebih pada kondisi jalanan yang menanjak sepanjang Glenmore sampai Jember.Duduk dibarisan ketiga sisi kiri bus, memberi keleluasaan bagiku untuk melepas pandangan keluar jendela bus.Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mata ini memandang setiap jengkal tanah dan apapun yang berdiri diatasnya: rumah,tanaman,sekolah,masjid,hotel, persawahan.Saya begitu menikmati perjalanan ini.Nikmatnya perjalanan ini didorong oleh tidak saja karena merupakan perjalanan terjauhku,namun juga karena baru pertama kali ini aku akan menginjakkan kaki di ibukota Negara kita:Jakarta.Saking asyiknya merasakan kenyamanan bus dengan perasaan senang, bus yang saya tumpangi ternyata sudah meninggalkan Jember.Bus mulai melaju dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan kami disuguhi oleh aliran air disisi kiri lambung bus. Kanal-kanal sepanjang Tanggul –Lumajang menambah keindahan perjalanan kami. Tepat pukul 13:30, tiba-tiba sopir membanting steer kemudi ke kiri, wah tenyata jeritan perutku di dengar sang sopir.Kami makan siang di sebuah rumah makan bernama “Panorama” Probolinggo. Menu makan siangnya sangat sederhana:nasi putih,mie dan tempe. Yang agak berbeda adalah tempenya.Berbeda bukan dari rasanya, tapi lebih pada ukuran ketipisannya. Sangat tipis sekali,sehingga untuk mengunyahnya hanya butuh sedikit energy saja.Teman disebelahku tiba-tiba mengernyitkan mulutnya,seperti menelan pil pahit.Aku baru sadar jika temanku tadi meminum teh pahit,sama seperti yang kualami sesudahnya.
Perjalanan dilanjutkan kembali menyusuri jalanan kota demi kota, tepat di depan Lapindo, bus tertahan lama,bukan karena luapan lumpur, namun lebih pada kepadatan lalu lintas akibat jalan yang rusak dan sempit. 30 menit lamanya kami terjebak dalam kemacetan panjang.Dari jendela saya bisa melihat mobil-mobil menyemut panjang sekali. Salah satu efek teknologi transportasi:kemacetan. Untungnya bus kami berpendingin, hingga panasnya terik matahari di siang itu tidak berpengaruh banyak terhadap kami semua.
Bus terus merengsek memasuki tol Waru Sidoarjo. Kecepatannnya kini super tinggi, melaju salip menyalip di jalanan mulus nan bebas hambatan itu.Setelah 30 menit berada di jalan tol itu,kami keluar kota Surabaya menuju Gresik,Lamongan Tuban dan seterusnya. Jam menunjukkan pukull 18:00 WIB, perut sudah terasa perih menahan rasa lapar,ternyata jeritan perutku didengar oleh sang sopir untuk kedua kalinya, akhirnya kami belok di rumah makan, yang relative besar. Di rumah amakn ini akau melihat meja prasmanan yang tertata rapi dengan aneka makanan diatasnya. Perut ini semakin melilit tatkala melihat tumpukan makanan diatas meja itu.Meski makanannya sama seperti makan siang,namun rasa lapar ini tekah menyebabkan hilangnya pilihan-pilihan rasa itu. Di tempat ini juga aku melaksanakan shalat magrib,sekaligus isya.Tepat pukul 19:00 WIB, bus meluncur lagi kearah barat, ditengah keremangan malam,aku masih bisa melihat daerah dan kekahsannya yang belum pernah aku lihat sebelumnya.Sayup-sayup kudengar suara adzan yang timbul tenggelam suaranya mengikuti laju bus, ternyata sudah subuh, ku bangun tuk melakukan shalat subuh dengan bertayamun dan shalat di atas tempat dudukku.Indramayu,ya saya sudah sampai di Indramayu, lumbung padi nasional. Disini juga saya makan di sebuah warung besar.
Jam 11:00 kami masuk tol halim, bus berjalan menyemut, kadang berhenti dalam waktu yang lama,bergerak sedikit, berhenti lagi.Tak terasa kami telah menghabiskan waktu satu jam lebih di Tol itu. Benar kata orang jika Jakarta akan menyambutmu dengan kemacetan.Lupakan kemacetan, setelahnya kami sudah memasuki pinggiran Jakarta, gedung-gedung menjulang tinggi, mobil-mobil salip menyalip di ruas jalan yang tersusun bak tangga itu. Tiada sejengkalpun ruas jalanan itu yang sepi dari deru mesin mobil.Kuamati terus jalanan itu, orang saling menyalip dan berupaya memacu kendaraannya sekencang mungkin. Aku tidak paham dengan fenomena itu.APa karena jam kantor yang mepet, keadaan darurat atau itu justru karakter kita yang tidak mau antri.Jalanan semakin macet, sesaat setelah pengendara sepeda nylonong masuk dan berliuk-liuk ditengah himpitan mobil di sisi kanan dan kirinya.Oh Jakarta, kerasnya kehidupanmu telah memaksa orang menjadi liar di jalanan.Keterpanahan atas fenomena jalanan Jakarta tidak menyadarkanku bahwa bus telah berhenti di sebuah pangkalan di Kebayoran Lama Jakarta Barat.Pengalaman apa yang saya dapat dan lakukan di Jakarta?tunggu tulisan saya ke 3.

Comments
  1. evie sufiani says:

    hihihihi, tempe tipis? waaahhhh pasti garing dan renyah tuy… terbayang nikmatnya.
    Btw, lain kali bawa roti ya pak guru, biar perutnya ga menjerit-jerit…. :)))))
    “satu efek teknologi transportasi: kemacetan ?”… ihihihihi.
    btw, alur cerita yang menarik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s