Bahasa Itu Punya Nyawa

Posted: November 23, 2010 in HypnosNLP

Tulisan ini merupakan catatan kecil selama mengikuti Training Hypnotherapy Fundamental di Yanurindra School of Hypnotism di Jakarta, 6 Juni 2009. Saya beruntung mendapat kesempatan untuk duduk mengikuti kelas Hypnotherapy Fundamentalnya Pak Yan.

Catatan saya yang pertama, bahwa training ini simple, mendasar dan cukup membekali peserta untuk menjadi seorang terapis atau seorang hipnotis panggung atau hypno stage. Metodenya dengan banyak praktik (workshop) sehingga peserta tidak terjebak dalam metode belajar verbalistik. Belajar yang baik adalah dengan cara melakukannya, bukan hanya sekedar melihat dan mendengarkannya.

Catatan saya yang kedua, setelah menyimak, memperhatikan demo-demo yang diberikan oleh Pak Yan dan sekaligus mencoba mempratikannya, saya punya catatan khusus bahwa antara ilmu hypnosis dan NLP (neuro linguistic programming) memiliki kesamaan spesifik yakni ”bermain-main soal bahasa”. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa sukses itu hanya soal ”permainan bahasa”. Bahasa mempengaruhi pikiran dan pikiran menentukan tindakan/perilaku.

Anotomi Bahasa

Hampir semua suku bangsa di muka bumi ini memiliki bahasa, baik bahasa tulis, lisan dan bahasa nonverbal. Ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari bahasa. Bahasa merupakan ciptaan manusia yang merupakan hasil kesepakatan bersama sebagai alat bertukar informasi atau berkomunikasi.

Ilmu pengetahuan di muka bumi ini bila diperas hanya satu, yakni bahasa. Matematika pun sesungguhnya juga bahasa, yakni bahasa simbol/bilangan yang pada umumnya berupa angka-angka. Matemaika, tidak lain adalah bentuk komunikasi yang mengutamakan angka-angka.

Bahasa dilambangkan dengan huruf dan angka berikut tanda bacanya. Awalnya hanya huruf, yakni vokal, konsonan, angka dan tanda baca.. Namun setelah dirangkai dengan tata bahasa, beberapa huruf berubah menjadi sebuah kata yang memiliki arti harfiah cakupannya masih sangat umum atau luas. Kata ”mata” misalnya memiliki cakupan umum yang bisa berarti: ”mata manusia”, ”mata burung”, ”mata hati”, ”mata kaki ” dan lain-lain.

Selanjutnya bila kata ”mata” dirangkai dengan kata yang lain menurut tata bahasa tertentu, misalnya ”Sekarang, tutup mata Anda”, maka kata ”mata” dalam kalimat ini sudah menjadi lebih khusus, yakni mata seseorang –bukan hewan—supaya ditutup.

Namun demikian ketika kalimat tersebut diucapkan dengan intonasi yang berbeda maknanya menjadi lain. Misalnya, ”Sekarang, tutup mata Anda…!”, dengan intonasi yang keras dengan disertai ekspresi wajah garang, muka merah, dan mata si pengujar melotot, maknanya menjadi berubah, tidak sekedar menutup mata, tetapi berarti marah. Responnya pun bisa bervariasi bagi si lawan bicara, bisa benar-benar menutup mata, bisa lari ketakutan, bisa menangis, bisa pula malah melotot yang berakhir dengan adu jotos.

Akan berbeda lagi bila diucapkan oleh seorang terapis yang kharismatik. Dengan intonasi dan kemasan hipnotis misalnya, maka kalimat ”Sekarang, tutup mata Anda…” maka dampaknya menjadi sangat sugestif yang langsung menyentuh alam bawah sadar seseorang. Dengan kemasan bahasa hipnotis pula, kalimat itu mampu mendorong seseorang untuk menutup matanya dengan ikhlas, senang hati dan bahkan menikmatinya.

Dengan demikian, makna sebuah kalimat bisa tergantung pada konteks (suasana, tempat, intonasi dan figur si pengujar). Bahasa dan efeknya tergantung pada muatan kontekstual dan emosional si pengujar dan persepsi (respon) yang dibangun oleh penerima. Muatan kontekstual dan emosional ini menjadikan sebuah kata/kalimat sesungguhnya menjadi memiliki ”nyawa” yang sanggup mempengaruhi persepsi penerima. Bahasa yang diberikan seorang terapis menjadikan seseorang (client) trance (mabok), begitu pula bahasa yang dibangun oleh seorang orator atau motivator top mampu mempengaruhi emosi penerima.

Kata/kalimat yang ”bernyawa” adalah kata/kalimat yang bermuatan rasa (kinestetik), daya imaji (visual) dan intonasi yang tepat (auditori) atau gabungan diantara muatan itu yang dikemas sedemikian rupa oleh si pengujar. Dalam ranah ilmu NLP dan hypnosis, mutan-muatan ini disebut submodalitas.

Sebuah kata/kalimat ketika si pengguna memasukan unsur-unsur submodalitas (visual, auditori dan kinestetik) maka makna yang dibangun menjadi sebuah kata yang hidup (bernyawa) seperti layaknya sebuah adegan/filem. Tetapi bila hanya dipahami sebatas ujaran saja tanpa memasukkan unsur-unsur submodalitas, maka sebuah kata/kalimat menjadi ”mati”. Semisal kata ”Ibu” bila hanya dipahami sebatas ujaran saja maka artinya hanya ”seorang wanita tengah baya yang sudah memiliki anak”. Namun bila memahaminya dengan unsur-unsur submodalitas maknanya menjadi lebih hidup yakni: ”seorang wanita setengah baya yang sabar” (visual); ”seorang wanita yang lembut suaranya” (auditori); dan ”seorang wanita yang penuh kasih sayang sepanjang zaman” (kinestetik). Makna kata ”Ibu” akan lebih hidup lagi bila seorang pengujar atau terapis mampu mengeksplorasinya lebih lanjut tentang pentingnya submodalitas tersebut.

Trance dan bahasa

Bahasa yang bernyawa itu mampu membuat seseorang trance atau setengah tidur. Dikatakan setengah tidur karena ia tidak tertidur nyenyak (mimpi) atau tidur alami melainkan tidur hypnosis yakni yang tidur hanyalah pikiran sadarnya saja. Sementara pikiran bawah sadar sangat aktif. Hypnosis adalah seni mengistirahatkan pikiran sadar dan mengaktifkan pikiran bawah sadar.

Yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut adalah, bagaimana seorang dalam keadaan trance memahami bahasa? Bagaimana seseorang yang dalam keadaan tanpa pikiran sadar/kritis memahami sugesti yang diterima? Singkatnya, bagaimana pikiran bawah sadar memahami bahasa sugestif?

Sifat dasar dari pikiran bawah sadar adalah: sangat cerdas dan berpikir asosiatif. Sangat cerdas berarti ia menerima seratus persen pesan sugestif dari si pengujar atau terapis. Pikiran bawah sadar menerima tanpa reserve pesan itu, tidak lebih dan tidak kurang, ia cerdas. Ada yang mengatakan pikiran bawah sadar itu bodoh karena tidak memiliki daya analisis seperti pikiran sadar. Namun perlu dicatat bahwa kedua pikiran itu memiliki fungsi yang berbeda: pikiran sadar disebut cerdas bila mampu mengangalisis saat menerima stimulus; dan pikiran bawah sadar disebut cerdas bila tidak menganalisis saat menerima sugesti.

Pikiran bawah sadar dalam menjalankan tugasnya selalu berpikir asosiatif, yakni membayangkan secara utuh (visual) akan sebuah pola tindakan tertentu sekaligus mencoba merasakannya (kinestetik). Berpikir asosiatif adalah berpikir membayangkan dan merasakan akan sebuah tintakan tertentu berdasarkan pengalaman subjektifnya. Semisal, ketika pikiran bawah sadar mendengar kata ”terbang”, maka ia segera membayangkan seekor burung yang terbang sambil mengepak-epakkan sayapnya; atau mungkin pengalaman subjektifnya segera membayangkan sebuah kapal terbang di angkasa dengan dua sayapnya terbentang lebar.

Di sinilah kuncinya, seorang yang dalam keadaan trance, kemudian ia disugesti bahwa dirinya adalah ”seekor burung yang sedang terbang”, maka dengan segenap kecerdasan bawah sadarnya ia segera membayangkan dan merasakan bahwa dirinya adalah seekor burung yang sedang terbang di angkasa. Ia akan meniru seratus persen –karena cerdas– seperti tindakan burung yang sedang terbang. Ia akan bertindak dan berperilaku sesuai dengan apa yang ia asosiasikan, meskipun ia berada di depan kelas misalnya.

Namun perlu dicatat tebal-tebal bahwa kenapa ia bisa bertindak seperti burung bukan sekedar karena ia –pikiran bawah sadarnya—cerdas dan mampu berpikir asosiatif, tetapi kalimat ”seekor burung yang sedang terbang” itu memiliki ”nyawa” yakni kekuatan submodalitas. Dalam kasus ini, ia akan mendengar perintah sugestif seratus persen (auditori) dari terapis, membayangkan (visual) dan merasakan (kinestetik) secara secara total. Ia akan menghayati secara total seperti burung terbang tanpa merasa malu di depan kelas (stage hypnosis) karena rasa malunya sedang dikarantina bersama pikiran sadarnya.

Hypnosis, kata Pak Yan, tidaklah sulit. Yang sulit adalah bagaimana agar sesorang dapat terhipnosis. Mengajak orang untuk mau menerima sugesti kita apa adanya adalah pekerjaan utama seorang terapis hypnosis. Teknik hypnosis dari test sugestibiltas, induksi, deepening, dan memasukkan kata-kata sugesti hingga termination adalah penting bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan hypnosis. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana bahasa yang kita gunakan selama menghipnosis itu mempunyai nyawa, kalau tidak ingin gagal dalam praktei hypnosis.

Terimakasih Pak Yan, atas ilmunya yang telah dibagi. Insya Allah saya pun akan segera membaginya lag

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s