RAN_CO dan BUDAYA MEMBACA MENULIS SISWA

Posted: October 17, 2010 in Gagasanku

RANCO DAN BUDAYA MEMBACA -MENULIS SISWA

Oleh:
Heriyanto Nurcahyo
Certified Hypnotherapist (CHt) dan Pendidik di SMA Negeri 1 Glenmore

(Artikel ini telah di muat di Jawa Pos, Hari Jum’at Tanggal 15 Oktober 2010)

Adora Svitak namanya,umurnya baru 13 tahun namun kemampuannya menulis bisa menginspirasi kita semua. Penulis buku”Flying Finger”asal Amerika Serikat tersebut mengguncang dunia dengan karyanya yang luar biasa. Bahkan saking luar biasanya kemampuannya itu, dia dijuluki “Tiny Literacy Giant”.Bayangkan saja, tahun ini dia mampu menulis 250.000 kata tanpa bantuan siapapun.Disamping tiga torehan karya ciptanya yang lain.
Dalam suatu kesempatan dia pernah berujar bahwa, saat ini dunia sedang membutuhkan pemikiran anak-anak.Pemikiran apakah gerangan? yaitu pemikiran yang didalamnya menyemai dan membuahkan ide-ide hebat, kreatifitas segar,serta rasa optimisme yang tinggi menghadapi hidup dan kehidupan yang akan mereka jalani/alami.
Apa yang dilontarkan oleh Adora Svitak seharusnya menyadarkan kita bahwa anak-anak adalah asset berharga yang tidak ternilai dalam kehidupan ini.Kita sangat yakin bahwa setiap anak adalah seniman,sebagaimana Pablo Picasso meyakininya.Sebagai seorang seniman kecil, dia memandang alam semesta – dengan berbagai fenomena yang menyertainya – sebagai sebuah dunia penuh warna dan sesuatu yang menarik, tentunya.Dengan segala keunikan dan kekhasannya,budaya menulis bisa menjadi media utama untuk melecutkan pikiran-pikiran “gilanya”. Wahana kreatifitas menulis inilah yang dibutuhkan oleh mereka untuk mengekspresikan sekaligus mengeksplorasi temuan-temuan baru dalam hidupnya.
Menulis adalah kegiatan yang sangat komplek sekali. Di dalamnya,seorang penulis akan menciptakan sesuatu. Kegiatan ini berarti juga bahwa mereka (penulis) sedang melontarkan gagasan dan pertanyaan- pertanyaan, kemudian memunculkan keraguan dan berusaha memecahkannya.Kegiatan semacam ini berkorelasi positif dengan kegiatan belajar.Terlebih lagi jika, proses kreatif tersebut terus mendapat ruang untuk bergerak dan berkembang,maka keahliannya bisa diturunkan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang ia temui dalam menangkap fenomena yang berkembang disekitarnya.Termasuk juga dalam proses belajarnya di ruang-ruang kelas ( bagi penulis pelajar).
Nicholas Negroponte –Bapak revolusi digital-berkata bahwa tulisan mampu menimbulkan imaji-imaji dan membangkitkan metafor-metafor yang mengandung banyak arti bagi imajinasi dari pengalaman membaca. Ketika Anda membaca sebuah novel, muncul berbagai warna, suara, dan gerak dalam diri Anda sendiri. Karenanya korelasi budaya membaca dan menulis ini adalah harta tidak ternilai dalam menyemai tunas bangsa yang lebih produktif,kreatif dan memiliki karakter.

RANCO SEBAGAI SEKOLAH MEMBACA-MENULIS
Mulai minggu ini, kita bisa membaca sekaligus menikmati budaya menulis siswa melalui ajang Radar Newspaper Competition (RANCO) .Budaya dan hasil menulis mereka sudah seharusnya diapresiasi cukup tinggi.Mengingat,selama ini, mereka dihadapkan pada fakta yang sangat mengenaskan akan rendahnya kemampuan membaca dan menulis.Hal yang tidak berbeda jauh juga menderah para pendidiknya.Rendahnya kemampuan menulis ini juga diakibatkan rendahnya kemampuan membacanya.Seseorang mampu menulis dengan baik jika memiliki kemampuan membaca yang juga cukup baik.

Lembaran Koran RANCO adalah bukti bahwa kreatifitas jika mendapat ruang akan menghasilkan karya yang luar biasa.Jika kita membaca hasil karya anak didik itu,maka kita dengan mudah membaca dan menemukan betapa enaknya bahasa yang mereka gunakan dalam mengekspresikan bahkan mengeksplorasi fenomena alam dan social yang mereka jumpai di sekitarnya.Bagiman mereka mememcahkan rasa ingin tahunya terhadap suatu objek.kejadian dengan memanfaatkan seluruh kemampuannya. Dan ternyta karya itu tidak muncul begitu saja, melainkan ada proses yang telah mereka lalui sebelumnya,yaitu membaca.
Sungguh sangat ironis, budaya membaca sebagai bahan bakar proses belajar justru terkesan dimarginalkan. Lihatlah disekolah-sekolah kita ini, perpustakaan sebagai jantung dan rohnya sekolah hanya berisi bangku-bangku kosong ditemani deretan rak buku yang diisi oleh buku-buku usang dan buku teks pelajaran edisi lama.Perpustakaan menjadi tempat paling tidak menarik setelah ruang-ruang kelas itu sendiri.
Fenomena diatas memang berbalik arah dengan upaya pemerintah untuk menaikkan tingkat literasi.Peningkatan kualitas output/keluaran sekolah tidak bisa dilepaskan begitu saja dari dua kemampuan dasar ini.Karenanya pengembangan dan penumbuhan budaya membaca dan menulis siswa harus dirangsang dengan berbagai cara.RANCO telah memulai merangsang budaya itu.Apresiasi yang tinggi memang harus diberikan kepada Radar Banyuwangi yang telah memfasilitasi anak didik kita untuk menumbuhkan dan mengepakkan sayap kreatifitas membaca dan menulisnya selama tiga tahun terakhir . Semoga kegiatan ini bisa dijadikan contoh oleh Dinas Pendidikan dalam mengembangkan kreatifitas sekaligus budaya membaca dan menulis di sekolah.Terlebih lagi, Bupati Banyuwangi terpilih _Abdullah Azwar Anas- adalah seorang coloumnist dan penulis buku.Semoga kebijakannya bisa linear dan memberi ruang bagi tumbuhnya kreatifitas di sekolah.Tidak saja bagi peserta didik,melainkan juga bagi para pendidiknya. Mngingat kita telah menjadi bangsa yang rabun membaca buku dan lumpuh menulis.Semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s