PENGANGGURAN TERDIDIK

Posted: October 6, 2010 in Gagasanku

PENGANGGURAN TERDIDIK

Oleh:

Heriyanto Nurcahyo

Pendidik di SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi

Pengangguran adalah penyakit yang menyertai perkembangan perekonomian suatu bangsa. Bangsa manapun di dunia pasti tidak bisa terlepas dari masalah klasik ekonomi ini. Indonesia juga setali tiga uang. Dalam beberapa decade terakhir,persoalan pengangguran menjadi masalah serius tersendiri bagi bangsa ini. Jeratan krisis ekonomi yang berkepanjangan serta rendahnya mutu pendidikan dan sumber daya manusianya menjadi factor pemicu semakin tingginya jumlah pengangguran di Indonesia. Tidak itu saja,kualitas pendidikan dan out put yang dihasilkan juga berperan positif dalam menciptakan penganguran terdididik, disamping persoalan sempitnya akses pendidikan tinggi dan lapangan pekerjaan tentunya.

Baru-baru ini, Badan Perburuhan Internasional (ILO) merilis jumlah pengangguran usia muda di seluruh dunia. Dalam laporan berjudul ”Tren Lapangan Kerja untuk Kaum Muda 2009”, pengangguran kaum muda tercatat 13% atau 81 juta jiwa. Sekitar 620 juta penduduk usia 15-24 tahun terlibat dalam kegiatan ekonomi secara aktif. Angka ini terbesar sepanjang catatan ILO. Ada peningkatan lebih dari 7,8 juta dibandingkan dengan 2007, dari 73,2 juta (11,9%) menjadi 81 juta (13%). Diperkirakan akan meningkat menjadi 13,1% pada 2010, namun menurun pada 2011 menjadi 12,7%.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa di Indonesia, angka pengangguran pada 2010 sekitar 7,6% atau 9,26 juta jiwa, 30-40 % adalah pengangguran kaum muda, 10% di antaranya sarjana. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pengangguran begitu kira-kira gambaran untuk fenomena social diatas. Fenomena pengangguran sering menyebabkan timbulnya masalah sosial lainnya. Di samping tentu saja akan menciptakan angka produktivitas sosial yang rendah, dimana pada gilirannya akan menurunkan tingkat pendapatan masyarakat.

Fenomena ini menjadi kenyataan pahit yang dihadapai oleh bangsa Indonesia. Dan dunia pendidikan sebagai salah satu agen pemasok tenaga kerja mungkin tidak luput dari limpahan kesalahan atas kenyataan pahit ini. Pertama,Dunia pendidikan adalah harapan besar dimana sebagian besar rakyat menaruhkan padanya kepercayaan atas masa depan anak-anaknya. Sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,maka semakin besar pula peluangnya untuk dapat bekerja secara layak.Memang harapan ini wajar, namun kenyataan dilapangan kondisi ini tidak berkorelasi positif dengan kesempatan kerja.Ternyata tingginya jenjang pendidikan yang diperoleh belum menjadi jaminan akan kemudahan mendapat pekerjaan setelahnya.Kedua,. Ketidakcocokkan/keselarasan antara perencanaan pembangunan pendidikan dengan perkembangan lapangan kerja merupakan penyebab utama terjadinya jenis pengangguran ini. Sulit dibayangkan SDM berkualitas akan tercapai bila tidak disertai oleh meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan. Dan akan sangat muskil APK meningkat, bila tidak disertai oleh apresiasi masyarakat yang tinggi terhadap pendidikan
Lantas adakah yang salah dengan pendidikan? Namun kita harus jujur, kebijakan perluasan dan pemerataan pendidikan formal punya andil dalam permasalahan ini. Ide dasarnya kebijakan ini untuk memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan taraf hidup, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong terciptanya sikap positif.

Selama ini kita terjebak pada pemahaman bahwa ijasah (bukan ketrampilan yang didapat) adalah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Mc Donalisasi pendidikan yang marak akhir-akhri ini semakin meneguhkan kondisi ini. Semua orang berlomba-lomba mendapatkan ijasah S1 hanya untuk memudahkan jalan mencari pekerjaan. Booming sarjana kemudian melanda negeri ini.

Fenomena melimpahnya sarjana yang menganggur sebenarnya menjadi modal besar bagi bangsa untuk maju jika dibarengi dengan kualitas yang tinggi. Sayang sekali, melimpahnya sumber daya yang berpendidikan tinggi ini tidak dibekali dengan kesiapan mental dan pengetahuan untuk menjadi bagian penting dalam menggerakkan roda ekonomi bangsa

Sudah bukan rahasia lagi bahwa lulusan sekolah dan atau perguruan tinggi memiliki mentalitas pegawai (PNS,swasta). Dalam benak sebagian besar mereka, pegawai lebih nyaman dan minim resiko. Mentalitas inilah yang mendorong lulusan lembaga pendidikan lebih banyak menumpuk di sector pekerja bukan penyedia kerja. Jiwa intrepeneurshipnya sangat rendah untuk tidak mengatakan tidak memiliki. Jarang sekali ditemui lulusan perguruan tinggi menciptakan lapangan kerja bagi sesama.

Karenanya reorientasi program dan kebijakan dipandang perlu untuk meminimalisir dampak pengangguran terdidik dimasa mendatang. Pertama,Perluasan akses pendidikan tinggi juga harus dibarengi dengan peningkatan mutu lulusan baik soft skillnya maupun hard skillnya.Kedua, Karena dunia pendidikan adalah bagian social maka sudah selayaknya jika orientasi pendidikan juga harus selaras dengan tuntutan lingkungannya.Ketiga, untuk jurusan yang sudah jenuh daya serapny dilapangan sudah seharusnya mendapat perhatian sekaligus pemecahan masalah sehingga tidak ditemui lagi pengangguran yang menunmpuk di salah satu program. Memperluas program keahlian juga bias menjadi alternative lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s