MENYEMAI KREATIFITAS DI RUANG KELAS

Posted: October 6, 2010 in Gagasanku

Oleh: Heriyanto Nurcahyo

Certified of Hypnoteraphist ,Pendidik di SMA Negeri Glenmore Banyuwangi

Creativity is a gift.

We all receive it at birth,

but we must practice it in order
to keep it.

Syahdan, terdapatlah sebuah lelang tengkorak kepala manusia. Disitu dilelang tengkorak kepala manusia dari berbagai belahan negara di dunia. Salah satunya adalah tengkorak asli orang Indonesia. Dari sekian banyak tengkorak kepala manusia, ternyata,tengkorak kepala orang Indonesialah yang memiliki daya tarik dan harga jual tertinggi jika dibandingkan dengan Negara lain,semisal Amerika, Israel, Jepang dan Negara maju lainnya. Kok bisa ya?.Selidik punya selidik, ternyata, mahalnya tengkorak kepala manusia Indonesia karena masih orisinil. Tengkorak Kepala (otaknya) orang Indonesia masih jarang dipakai, jarang diberdayakan. Berbeda jauh dengan kepala (otak) dari warga Negara lain yang sudah aus karena banyak dipergunakan selama hidupnya.Thus, tengkorak kita memiliki nilai jual yang sangat fantastic-karena masih orisinil.

Anecdote diatas memberi kita pelajaran berharga bahwa sesungguhnya Allah SWT memberi kita anugrah terbesar berupa otak yang ditaruh di kepala kita tidak untuk dibuat pajangan saja, melainkan kita gunakan semaksimal mungkin. Dieksplorasi secara maksimal untuk menghasilkan karya bermakna bagi kehidupan.

Toni Buzan dalam bukunya Use Your Head mengibaratkan otak kita laksana raksasa tidur. Raksasa adalah sosok yang sangat kuat dan digdaya. Kedigdayaannya tergambar secara apik dari bagaimana mereka (raksasa) memiliki tubuh yang besar, kuat. Besarnya ukuran tubuh serta kekuatan yang dilahirkannya menyebabkan ia mampu melakukan pekerjaan yang dinilai mustahil oleh manusia. Membendung sungai, mencabut pohon besar, merobohkan gedung adalah sebagaian kecil gambaran kekuatan dan kemampuan raksasa itu.

Ternyata kedigdayaan raksasa hanya mampu di tandingi oleh kehebatan otak kita. Otak kita yang besarnya hanya sekepelan tangan mampu melakukan tugas –tugas berat melampaui kekuatan sang raksasa tadi. Dan salah satu kedigdayaan dan kekuatan otak itu adalah mampu berfikir efektif dan kreatif. Dari kreatifitaslah kemudian muncul pesawat terbang, mobil, computer, TV,HP dan masih banyak ciptaan dan teknologi lainnya. Betapa besar manfaat berfikir efektif dan kreatif tersebut dalam kehidupan kita ini. Sayang sekali jika Otak kita yang luar biasa itu dibiarkan terlelap dalam tidurnya.

Seringkali potensi kreatifitas pupus begitu saja oleh “mal praktik “ pembelajaran di ruang-ruang kelas. Tanpa disadari banyak praktek pembelajaran yang justru melemahkan kreatifitas anak. Kita ambil contoh yang sangat sederhana dalam hal penilaian. Kita mungkin pernah menemukan soal yang berbunyi”Jendela terbuat dari?.Di soal tersebut sudah di sediakan 4 jawabannya.Salah satu jawaban itu adalah kayu. Kebetulan seorang peserta didik menjawab jawaban lainnya (besi). Alhasil, jawaban tadi disalahkan karena bagi guru jawaban yang benar adalah kayu. Padahal saat ini, jendela bisa terbuat dari apa saja, tidak hanya kayu, ia bisa terbuat dari besi, logam, beton bahkan sampah. Dalam konteks ini soal tadi telah memungkinkan murid berfikir terlalu konvergen. Karenanya kemudian,Disraeli-mantan Perdana Menteri Inggris berujar: “He had only one idea, and that was wrong.”

Gaya pengembangan pola berfikir yang konvergen juga mendorong anak tidak memiliki kelenturan dalam berfikir. Gaya berfikirnya terlalu motoris, rigid dan seragam. Kreatifitas berfikir menjadi suatu keniscayaan mengingat telah terjadi penyeragaman jawaban atas fenomena yang dihadirkan.Anak dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tetap, pada alternative-alternatif yang baku.

Kondisi diatas juga dilemahkan oleh aktifitas di ruang-ruang kelas yang terlalu monoton. Anak ”dipaksa” duduk rapi berjajar selama berjam-jam mendengar guru mencurahkan ilmu di kepala mereka.Kondisi ini dapat divisualisasikan laksana seseorang yang menuangkan air kedalam gelas kosong hingga airnya meluber dan mubazir. Proses pembelajaran ini telah memungkinkan anak serasa berada di dunia lain. Apa yang dihadapi di ruang kelas berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialaminya. Kegembiraaan, warna-warni kehidupan tidak lagi ia temukan di ruang-ruang kelas.Yang ada hanyalah buku catatan, papan tulis monocrom dan sederet perintah dan larangan sebagai seorang murid.Pekerjaan rutin yang mereka hadapai tiap hari menjadi musuh otak yang paling berbahaya.Kondisi ini akan hanya melahirkan stress.

Monotonisasi ini menyebabkan peserta didik tertekan secara psikis. Tekanan psikis ini kemudian berpengaruh terhadap aktifitas belajarnya. Mereka cenderung menjadi kurang percaya diri,takut salah dan takut dibuat cemooan sesama murid karena ketidak mampuannya.Karenanya kemudaian dibutuhkan kreatifitas untuk merangsang otak bekerja secara maksimal.

Kreatif memiliki beberapa kata kunci (key words) yang memudahkan kita dalam mengembangkanyaa.Kreatif mengacu pada bagaimana kita melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya (out the box).Disamping itu ,kreatifitas juga akan mendorong seseorang untuk menerima gagasan baru yang tidak umum sekalipun. Bahkan kita sering “melanggar aturan”Dan yang terpenting adalah bahwa kreatifitas itu adalah proses konstruksi ide orisinal dan bermanfaat.

Melanggar aturan adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk mengembangkan kreatifitas itu.Salah satunya adalah Albert Einstein. Ia dibesarkan dengan perasaan tidak senang kepada aturan-aturan yang tidak masuk akal.Salah satunya adalah khayalan Einstein tentang fenomena fisik sambil menunggangi seberkas cahaya.Pelanggaran aturan ini telah memungkinkan dia mengidentifikasi dan melanggar aturan kunci yang telah menghalangi ahli fisika untuk menemukan teori relatifitas.Akhirnya “pelanggaranannya” menghasilkan teori relatifitas itu.

Melanggar aturan adalah salah satu jalan yang digunakan untuk memicu munculnya kreatifitas. Sebagai pendidik kita memiliki kesempatan yang sangat luas untuk membangun kreatifitas anak didik kita.Salah satu cara melakukannya adalah:Pertama, Be A Role Model.Jadikan diri kita sebagai model dan biarkan anak didik kita melihat dan melakukannya.Bagimana kita menghadirkan sebuah pelajaran dan bagaimana pula kita mengemasnya adalah bagian dari model itu. Mari kita berikan ruang yang cukup luas bagi anak didik untuk mengeksplorasi keilmuwan yang mereka dapatkan.Jika kita tidak mengasah kreatifitasnya, maka akan kita berarti hanya menginginkan karakter mereka terbentuk tanpa kreatifitas.

Kedua,Build Self Efficacy, pada tahap ini kita beri anak didik kita ruang untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dengan mencoba hal-hal yang baru. Rasa percaya akan kemampuan mereka kita jadikan sebagai pondasi yang kokoh bagi konstruksi pengetahuan mereka.Ajarkan kepada setiap anak didik untuk berani melakukan dan berani mempertanggungjawabkan sesuatu yang ia lakukan. Kesempatan ini akan menjadi modal berharga dalam membangan rasa percaya dirinya.Apresiasi dan selebrasi atas kemampuannya menjadi unsure penting dalam kegiatan selanjutnya.

Ketiga,Question Assumptions.Kita harus belajar mengidentifikasi semua potensi yang mereka miliki.Potensi itu harus kita katalisasi agar bisa maksimal. Dan jika ditemukan kelemahanm,maka beradalah di belakangnya untuk terus mendorong dan memotivasi agar mereka terus mencoba dan melakukan hal-hal yang baru.

Jika penyemaian kreatifitas itu sudah kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana mengembangnya hingga optimal.Pengembangan kreatifitas bisa dilakukan dengan berbagai cara.Yang terpenting adalah adanya kesempatan bagi kreatifitas untuk menjadi lebih”gila”.Kita harus menanamkan semangat pada anak didik untuk selalu menjadi penjelajah pikiran dengan terus bersikap terbuka atas ide-ide baru.Dan yang terpenting adalah bagaimana kita mempu mengembangkan gagasan-gagasan baru peserta sebanyak mungkin.Karena untuk menghasilkan ide yang baik, membutuhkan lahirnya banyak ide-ide baru ( the best way to get good ideas is to get a lot of ideas).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s