INFOTAINMENT DAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

Posted: October 6, 2010 in Gagasanku

INFOTAINMENT DAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

Oleh:

Heriyanto Nurcahyo

Pendidik di SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi

Ada cerita menarik tentang pengaruh teknologi baru pada budaya masyarakat Sio Papua,sebagaimana diceritakan oleh seorang Antropolog Amerika –Edmund Carpenter (Ecstasy Gaya Hidup,1997). Pertama-tama Edmund datang ke salah satu daerah di Papua dengan memperkenalkan teknologi komunikasi modern-Televisi,kamera,tape recorder,proyektor dan lain sebagainya.Beberapa bulan kemudian ia meninggalkan tempat itu .Ketika kembali lagi ketempat semula (Papua) ,ia menemukan beberapa hal yang sangat menakjubkan.Edmund sudah tidak mengenali lagi tempat itu. Beberapa rumah telah dibangun dengan arsitektur yang lain.Mereka sekarang berpakaian seperti orang Eropa ;dan prilaku mereka juga telah berubah menjadi kebarat-baratan (western).Mereka bereaksi lain.Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka dan berubah menjadi individu yang lepas satu sama lain,terasing,frustasi,dan tidak lagi menjadi bagian dunia mereka sebelumnya.Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan budaya mereka.

Dewasa ini perkembangan teknologi yang begitu canggih telah melahirkan teknologi nanochip. Teknologi berbasis nanochip akan begitu minimalis, portable,canggih dan mudah digunakan. Salah satunya adalah televisi .Televisi yang terintintegrasi dengan hand phone telah memudahkan penyebaran informasi dan menjadi sarana hiburan yang mudah didapat .Masyarakat dapat dengan mudah mengakses/menikmati layanan hiburan di televisi kapanpun dan dimanapun.

Program televisi dengan pernak-pernik glamoritas yang ditawarkan dewasa kini telah menjadi “musuh” nomor satu bagi pelestarian budaya bangsa.Porsi hiburan yang mendominasi setiap tayangan telah menggeser perannya sebagai media informasi dan pendidikan.Stasiun televisi telah menjadi alat bagi industry hiburan kapitalistik yang hanya mementingkan syahwat dan uang semata.Disamping sebagai mesin penyebaran budaya-budaya barat yang notabene berseberangan jauh dengan budaya luhur bangsa kita. Televisi telah menampilkan gambaran indahnya hidup tanpa nikah (free sex),pornography berbalut alasan seni,serta tayangan yang hanya mengandalkan syahwat dan impian-impian semu belaka.

Jalaludin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi (1988) menulis bahwa realitas yang ditampilkan oleh media adalah realitas yang sudah diseleksi-realitas tangan kedua (second hand reality). Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lain.Mereka asyik memuat berita “darah dan dada” daripada tentang contoh dan teladan (karakter). Dan salah satunya adalah acara gossip/infotainment.

Maraknya acara gossip (ghibah) yang terbungkus menarik dengan nama infotainment telah juga menjadi sesuatu yang tidak saja terlalu vulgar menampilkan aib orang lain namun juga menjadi mesin pembunuh budaya dan karakter secara elektronik (technetronic ethnocide).Alfin Toffler menyebut fenomena ini sebagai industriality. Industri hiburan telah melampaui batas-batas agama dan moralitas dan budaya bangsa karena tuntutan pasar dan pertimbangan ekonomis semata.Masyarakat pemirsa dirangsang dengan berbagai iming-iming bahwa mereka benar-benar membutuhkan informasi/gossip tentang tokoh yang diidolakannya.

Memperbincangkan aib orang lain, terutama di depan public, dipandang sebagai sebuah tindakan yang sangat tidak bermoral.Namun,kehadiran infotainment yang mengumbar aib selebritis telah menggugurkan moralitas yang luhur itu.Kita dapat dengan mudahnya menyaksikan para selebritis dan public figure lainnya saling membuka aib,pamer kebencian dan tidak jarang memantik api permusuhan diantara sesamanya.

Acara infotainment telah berwujud layaknya makanan keseharian yang harus kita santap bagi pikiran kita semua.Pikiran ini telah merasuki pemirsanya termasuk didalamnya anak didik kita.Anak didik akan jauh mengenal karakter idolanya (selebritis) daripada tokoh-tokoh pejuang nasional bahkan gurunya sekalipun.Anak didik kita lebih menghormati para pujaannya dari pada kehadiran guru di ruang-ruang kelas.Dunia Infotainment telah merasuki alam bawah sadar mereka dengan sampah makanan-makanan pikiran semacam itu. Pemirsanya akan meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh idolanya/selebritis tanpa disadarinya.

Acara-acara tersebut diatas adalah sampah pikiran yang jahat yang tidak kita sadari saat memasuki pikiran kita.Berbeda jauh dengan makanan bagi tubuh, makan pikiran ini (berita,infotainment,film,dll) sesuatu yang sifatnya abstrak dan sulit dikenali dan dideskripsikan.Karenanya peran LSF dan dukungan semua pihak atas rencana sensor terhadap tayangan infotainment harus menjadi langkah pertama untuk menyelamtkan karakter bangsa dari kepunahan akibat derasnya arus kapitalisme bernama hiburan.Keputusan politis ini akan memberikan terapi kejut bagi produser infotainment yang ada.

Dari apek edukasi dan budaya, program pendidikan karakter bangsa telah memberi ruang yang sangat luas bagi pengembangan sikap toleransi,religious,sopan santun dan beberapa nilai karakter yang lainnya.Penumbuhan dan pembiasaan sikap religious dan sopan santun akan mendorong anak didik untuk memiliki prinsip yang kokoh dalam hidupnya.Cara berbusana yang sopan disekolah,pola hubungan pertemanan,kebiasaan disiplin dan hormat pada sesama adalah karakter yang seharusnya melengkapi karakter yang telah dikembangkan sekolah yang lainnya. Diharapkan kuatnya memegang prinsip hidup dan adat ketimuran akan menyelematkan masa depan bangsa dari erosi moralitas yang diakibatkan salah satunya oleh hadirnya tayangan infotainment yang tidak mendidik dan cenderung vulgar.

Menyemai karakter tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan kepedulian keluarga,mengingat sebagian besar waktu anak didik dihabiskan di lingkungan rumah.Diet acara-acara televisi adalah solusi sederhana untuk meminimalisir ketergantungan anak terhadap hiburan yang tidak mendidik.Dirumah, sopan santun,bermoral dan religious seharusnya juga merupakan program yang tidak terpisahkan dari aktifitas kesehariannya.Tauldan dari orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan anak.Biasakan untuk tidak menonton acara-acara yang mendorong anak untuk terlibat jauh dalam misi yang dibawanya baik melalui film,maupun acara infotainment. Jika benteng moralitas di rumah tertanam kokoh,apapun kondisi lingkungan yang dihadapi si anak tidak akan banyak mempengaruhinya.Memulai dari rumah aadalah solusi cerdas untuk menghindarkan anak dari budaya pop dan glamoritas budaya instant.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s