Regulasi Sehat Putus Kilat

Posted: July 15, 2009 in Uncategorized

jpDisadur dari Jawa Pos

Aku Linda, duduk di bangku SMA, dan usiaku 17 tahun. Sorry to say kalo kenalanku terkesan simpel. Aku emang nggak suka yang neko-neko. Dari perkenalanku aja udah bisa ketebak, aku tipikal cewek yang simpel. Rute utama harianku cuman sekolah-rumah, dan balik ke sekolah lagi. Jarang banget agenda nongkrong bareng temen terdaftar di list to do-ku. Maklum, orang tuaku ngajarin untuk melihat kehidupan dari kesederhanaan.

Aime, aku punya cowok. Sebut aja Rico namanya. Kami udah jadian sekitar empat bulanan. Jadian kami ini bak sepasang sandal. Nggak bisa dipake kalo satunya nggak ada. Rico orangnya baik dan ramah. Ketika ngapel ke rumah, dia selalu bawa oleh-oleh buat ortuku. Ortuku pun kelihatan suka sama dia. Apalagi, Rico yang kebilang cerdas bisa nyambung sama obrolan mama-papa. Sampai-sampai ortuku ngasih wejangan soal kuliah buat dia.

Aku sebagai cewek ngakuin kalo Rico emang punya kelebihan. Tampang nggak cakep-cakep amat, tapi bersih. Badannya juga nggak atletis, perutnya rada tambun. Mungkin daya pikat Rico terletak pada bibirnya. Ya, Rico punya kelebihan buat menjalin hubungan yang baik sama orang di sekitarnya.

Bangga? Kadang iya, kadang nggak. Hmm… Gini masalahnya. Rico anaknya cablak. Mungkin buat orang sediem aku, ukuran lebainya di luar batas. Memang, sifat ramenya yang bikin dia dirindukan temen nongkrongnya. Tapi, di balik keramaiannya, kadang dia suka mengumbar omongan nggak penting. Intinya, dia ini mirip infotainment berjenis lelaki.

Sifat cablaknya itu yang bikin aku emoh berada di sisinya. Pernah suatu ketika, pacaranku di sekolah terganggu lantaran sikapnya itu. Pas kami duduk berdua, seorang guru lewat di depan kami. Eh, dia malah manggil dengan sapaan yang kurang sopan. Memang, si bapak ini seneng kalo diajak bercandaan. Tapi, raut wajahnya pas itu kelihatan nggak nyaman dengan sapaan Rico. Aku jadi tengsin juga dong.

Aku sudah ambil keputusan, Aime. Ya, aku pengin putus darinya. Bukan perkara satu sebab di atas, tapi karena bertumpuknya perkara satu dengan lainnya. Perkara lainnya ini kadang membuat hatiku remuk redam. Pasalnya, Rico suka mengumbar omongannya yang tinggi di depan orang tuaku. Background papanya yang tajir dan hobi bolingnya yang mahal juga diceritain.

Aku pengin putus, tapi dengan cara simpel. Maksudnya, aku nggak pengin buka omongan di antara kita berdua. Di sisi lain, aku nggak pengin nyakitin hatinya dengan SMS putus yang sederhana. Aime, bikinin aku cara supaya aku bisa putus dengan tenang. Soalnya nih, aku khawatir, kalo aku minta putus di depannya langsung, mulutnya yang lihai itu memutarbalikkan fakta. Tolong ya, dokter cintaku.

Linda Sukmana, aristin_****@yahoo.com

Dear Linda,

Aime paham kok. Kamu memegang teguh prinsip diam itu emas kan. Ck ck ck. Padahal, nggak selamanya diam itu emas. Tapi, terlalu lebar buka mulut emang nggak baik. Kayak kasusmu ini, mulutlah yang bermasalah. Bukan porsinya kalo Aime nge­-judge­ infotainment pujaanmu itu. Tapi, Aime bakalan bocorin tip jitu supaya silent broken-mu ini bisa sukses. Eits, regulasi itu penting. Supaya kedua belah pihak nggak ada kerugian. Kamu senang, si mulut ember tenang.

Via Facebook

Rules number 1: Jangan sekali-kali nulis shot-out putus sebelum kamu putus beneran. Jangan juga mutusin cuma lewat status terbarumu. Soalnya, status itu kurang berkesan dan nggak punya kekuatan hebat. Coba kamu nulis notes. Tag namanya bila perlu. Di notes itu, kamu curhatin semua unek-unek yang ngeganjel. Ceritain semua latar belakang masalahmu dengannya.

Rules number 2: Pakai inisial. Supaya nama baiknya terjaga. Nah, saatnya kamu ngirimin message berkala. Tahap pertama tentang kekecewaanmu. Berulang seterusnya dan diakhiri tahap ketiga, yang nggak lain keinginanmu buat mutusin dia.

Via SMS

Dari namanya, sudah jelas SMS cuma bisa ngasih little space buat ungkapin unek-unekmu. Makanya, banyak rules di dalemnya. Pertama, kamu siapin segudang kartu voucher. Jangan pernah pelit untuk ngeluarin keputusan sakral seperti putus cinta. Rangkum segala unek-unekmu, tapi jangan berlebihan. Aime pikir empat tumpuk SMS udah cukup mewakili perasaanmu. Kedua, jangan mutusin hubunganmu dalam sekali kirim. Kirimin dia SMS berantai tiap hari, atau bila perlu tiap jam. Dari tingginya intensitas pengirimanmu, bakal kentara niatmu yang bener-bener pengin putus darinya kan.

Via Media

Lagi trennya puluhan orang ngutarain unek-uneknya di media massa. Radio, atau bahkan koran, misalnya, jadi alternatif penghubung baru. Kamu udah kirim surat lewat Aime ini kan. Solusinya, tunjukin halaman ini di hadapannya. Kalo perlu, tunjukin surat aslimu yang dikirimkan ke redaksi Aime. Pasti mukanya bakal merah padam. Rules pengungkapan lewat media ini nggak banyak. Paling banter, inisial kalian berdua kudu disamarin. Tentunya, gosip miring seputar kalian berdua kudu diantisipasi kan. (Aime)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s