Refleksi Ekonomi Akhir Tahun

Posted: December 9, 2008 in Uncategorized
LAPORAN AKHIR TAHUN BISNIS & KEUANGAN
Pekerjaan Rumah Lama yang Tak Kunjung Selesai
Selasa, 9 Desember 2008 | 02:08 WIB

Dua puluh dua hari lagi tahun 2008 akan menjadi masa lalu. Perjalanan meninggalkan 2008 dibaluti perasaan cemas akan berbagai persoalan yang bakal menghadang pada 2009. Badai krisis finansial global, yang bermula dari macetnya kredit perumahan di AS, yang semula seolah tidak akan ”menyentuh” negeri ini, kini menjadi bola liar yang ”melabrak” pilar-pilar perekonomian republik ini.

Dunia usaha dan pemerintah telah dibuat kalang kabut. Pasar ekspor industri, pertanian, ataupun pertambangan lunglai. Sementara industri yang menggantungkan diri pada bahan baku impor harus menelan pil pahit akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Pengurangan produksi pun menjadi sebuah keniscayaan dan pemutusan hubungan kerja tak terhindarkan.

Hingga medio November 2008 saja, sekitar 12.600 pekerja dipastikan menganggur. Diperkirakan hingga akhir 2008 sekitar 100.000 tenaga kerja sektor industri manufaktur dirumahkan dan dikenai PHK. Sampai pertengahan 2009 jumlahnya akan mencapai 500.000 orang.

Industri perbankan pun tak luput dari imbas krisis. Aliran likuiditas yang semula lancar tiba-tiba macet. Kepercayaan antarbank pun tergerus. Bank enggan meminjamkan dananya kepada bank lain. Likuiditas menjadi barang langka, terutama pada bank kecil. Suku bunga pun merambat naik. Ini berisiko pada peningkatan kredit bermasalah dan menurunnya permintaan kredit dari sektor riil. Padahal, bergeraknya sektor riil akan sangat membantu mengatasi problem ketenagakerjaan.

Sebenarnya, tanpa ada krisis pun, negeri ini diterpa berbagai persoalan yang datang silih berganti sepanjang 2008. Ini antara lain tecermin dari APBN 2008 yang tertekan sejak awal pembahasan. Lonjakan harga minyak dunia hingga ke angka 140 dollar AS per barrel, yang diiringi meroketnya harga komoditas pangan, memaksa pemerintah dan DPR mengubah target-target APBN hingga dua kali.

Persoalan yang tak kalah pelik datang dari sektor kelistrikan. Kurangnya pasokan batu bara, melonjaknya harga minyak, serta tidak seimbangnya antara pasokan dan kebutuhan konsumsi listrik menjadi ”mimpi buruk”. PLN harus memberlakukan giliran pemadaman listrik, dan membuat aturan pengalihan hari kerja bagi industri. Investasi yang diharapkan dapat mengatrol pertumbuhan pun sulit diharapkan tanpa listrik memadai.

Setitik cahaya

Di tengah ”mendung” yang menggayut sepanjang 2008, sektor pertanian memberikan setitik cahaya. Tahun ini, saat harga komoditas pangan melambung tinggi, produksi beras nasional mencapai 35 juta ton. Dengan konsumsi nasional 31-32 juta ton, kebutuhan beras nasional pun tercukupi.

Sektor pertanian, yang meliputi pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan telah menyumbang 4,3 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, lebih tinggi 0,1 persen dibandingkan kontribusi industri pengolahan. Lebih dari 42,5 juta orang atau sekitar 39,3 persen dari angkatan kerja ditampung sektor ini.

Namun, sektor ini bukannya tanpa masalah. Setumpuk persoalan laten terus menghantui dari waktu ke waktu, mulai dari semakin menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan secara masif, ketersediaan benih berkualitas, infrastruktur yang makin buruk, hingga belum disentuhnya pengembangan pertanian untuk memberikan nilai tambah pada produk pertanian.

Menghadapi krisis yang pertama harus ditanamkan adalah ”Jangan panik!” Tak ada waktu lagi untuk sikap populis demi popularitas. Tentukan dengan cermat prioritas mana yang harus menjadi fokus diselesaikan segera, jangan semua ingin diraih dan disenangkan, karena tak cukup kuat daya untuk meraih dan menyenangkan semua.

Sinyal kebersamaan dan saling mendukung itu tampaknya masih lemah. Ini tecermin dari nasib tiga peraturan pemerintah pengganti undang-undang, yang salah satu di antaranya Perpu tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan, yang diterbitkan pemerintah sebagai panduan dan langkah antisipasi krisis. Perpu itu hingga kini belum dibahas DPR, padahal jika sampai 19 Desember 2008 DPR belum menyatakan menerima dan mengesahkan menjadi UU, perpu itu akan gugur. Konsekuensinya, tak ada payung hukum yang menjadi panduan untuk mengambil langkah darurat mengatasi krisis.

Sikap populis dan mudah goyah oleh tekanan juga masih terlihat. Contoh terbaru tampak pada nasib peraturan bersama empat menteri terkait kebijakan pengupahan, yang diharapkan dapat mengurangi jumlah PHK. Umur peraturan itu hanya bertahan dalam hitungan hari dan direvisi karena tekanan buruh. Padahal, revisi juga tidak menyelesaikan masalah karena kini justru buruh dan pengusaha yang sama-sama tidak puas.

Tahun 2009 memang tahun politik. Namun, pekerjaan rumah ekonomi yang tersisa dari tahun 2008 tetap harus diselesaikan sebaik-baiknya. Tanpa itu, akankah kita mampu menjalani tahun politik dengan baik dan berkualitas. Tak ada lagi waktu untuk ”main-main”, kerjakan segera PR yang ada.(Elly Roosita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s